SINARPAGINEWS.COM, KUPANG BARAT – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menginisiasi Program Desa Eco-Bahari di Desa Lifuleo dan Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Program ini ditujukan untuk menggerakkan perekonomian desa, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta memperkuat pengelolaan sumber daya pesisir secara terpadu dan berkelanjutan.
Program tersebut disusun berdasarkan hasil Sustainable Livelihood Assessment (SLA) yang dilakukan Tim Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang. Kajian itu mengidentifikasi sejumlah persoalan utama masyarakat pesisir, antara lain keterbatasan akses permodalan, rendahnya kapasitas SDM, serta minimnya infrastruktur pendukung.
Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya produktivitas sektor budi daya rumput laut dan perikanan tangkap tradisional yang masih mengandalkan teknologi sederhana.
Direktur Politeknik KP Kupang, Muhamad Ali Ulat, mengatakan program Desa Eco-Bahari menjadi bentuk sinergi pendidikan vokasi dan dunia usaha dalam memperkuat kapasitas masyarakat berbasis potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
“Desa Eco-Bahari merupakan konsep pembangunan desa pesisir yang berorientasi pada pengembangan ekonomi berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Tujuannya menciptakan desa yang mandiri, maju, dan berdaya saing, dengan tetap menjaga keseimbangan ekologi serta kearifan lokal,” ujar Ali dalam keterangan tertulis, Rabu, 25 Februari 2026.
Potensi dan Tantangan Desa Pesisir
Desa Lifuleo memiliki luas sekitar 6,8 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 1.191 jiwa. Sekitar 67,4 persen warga menggantungkan hidup pada budi daya rumput laut, sedangkan 32,6 persen bekerja sebagai nelayan tangkap, baik sebagai mata pencaharian utama maupun tambahan. Selain sektor kelautan, pertanian juga menjadi penopang ekonomi desa.
Program Desa Eco-Bahari dirancang berlandaskan lima dimensi utama, yakni sustainability (keberlanjutan), eco-friendliness (ramah lingkungan), local wisdom (kearifan lokal), acceleration (percepatan ekonomi), dan technology (pemanfaatan teknologi).
Tiga Skema Utama Program
Koordinator proyek Desa Eco-Bahari, Rifqah Pratiwi, menjelaskan program ini dikembangkan dalam tiga kategori utama: edukasi dan pelatihan, konservasi lingkungan, serta pengembangan sarana dan prasarana.
Pada skema edukasi dan pelatihan, kegiatan meliputi pelatihan dan monitoring budi daya selvarula, monitoring kualitas perairan Pantai Oesina, introduksi teknologi pengeringan, serta pemberdayaan perempuan dan UMKM melalui diversifikasi produk rumput laut dan ikan.
Targetnya antara lain penyediaan kebun bibit rumput laut unggul, peningkatan produktivitas panen, tersedianya data kualitas perairan secara berkala, hingga peningkatan nilai tambah produk olahan khas desa.
Adapun pada skema konservasi lingkungan, kegiatan mencakup bakti bersih pantai dan transplantasi terumbu karang untuk memulihkan ekosistem laut, meningkatkan keanekaragaman hayati, serta melindungi pantai dari abrasi.
Sementara itu, pengembangan sarana dan prasarana diwujudkan melalui pembangunan Eco-Marine Tourism Park di Desa Lifuleo, program E-Marine di Desa Tablolong, serta Sudut Baca Pesisir.
Program E-Marine mencakup penyediaan freezer bagi kelompok nelayan untuk menjaga mutu ikan serta fasilitas produksi es gratis. Selain itu, dikembangkan pula kultur jaringan rumput laut guna menghasilkan bibit unggul yang dapat didiseminasikan kepada masyarakat.
Kolaborasi dengan PLN
Dalam pelaksanaannya, Politeknik KP Kupang bekerja sama dengan PT PLN (Persero) UPP Nusra 3 melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Ali berharap kolaborasi ini dapat menjadikan Desa Eco-Bahari sebagai praktik baik pengembangan desa pesisir berbasis kemitraan, pendidikan vokasi, dan tanggung jawab sosial perusahaan.
Upaya penguatan desa pesisir sebelumnya juga digencarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono melalui program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), yang ditujukan untuk mentransformasi kampung nelayan tradisional menjadi lebih modern dan produktif.
Kata kunci: Desa Eco-Bahari, KKP, Kupang Barat, Nusa Tenggara Timur, rumput laut, nelayan, ekonomi pesisir, konservasi laut, E-Marine, PLN. ***





