SINARPAGINEWS.COM, SSMARANG — Musyawarah Besar (Mubes) V Barisan Muda Kosgoro 1957 yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, pada 8–9 Agustus 2026, tidak sekadar menjadi forum pemilihan pengurus baru. Di tengah perubahan politik, sosial, serta pola pergaulan generasi muda, organisasi kepemudaan dituntut menjawab persoalan yang lebih mendasar, yakni arah kaderisasi dan karakter kepemimpinan yang hendak dilahirkan.
Hal tersebut menjadi perhatian Ketua Dewan Pembina DAMAR ISMAN, Donny A. M. Isman, dalam menyikapi pelaksanaan Mubes V Barisan Muda Kosgoro 1957.
Donny mengapresiasi penyelenggaraan Mubes tersebut. Namun, menurutnya, keberhasilan sebuah musyawarah besar tidak semata diukur dari terpilihnya figur yang akan mengisi struktur kepengurusan. Mubes seharusnya menjadi momentum konsolidasi sekaligus ruang untuk merumuskan gagasan baru mengenai masa depan organisasi dan kader-kadernya.
“Selamat dan sukses atas terselenggaranya Mubes V Barisan Muda Kosgoro 1957. Semoga forum ini menghasilkan keputusan terbaik dan melahirkan kepemimpinan muda yang visioner, berintegritas serta memiliki semangat pengabdian,” ujar Donny, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Regenerasi dan Tantangan Kepemimpinan
Menurut Donny, tantangan generasi muda tidak cukup dijawab dengan kemampuan mengelola organisasi. Para kader juga membutuhkan integritas, wawasan kebangsaan, serta kepekaan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Karena itu, proses regenerasi menjadi bagian penting dalam keberlangsungan organisasi. Pergantian pengurus hanyalah salah satu tahapan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kader yang tumbuh di dalam organisasi memiliki pengalaman, kapasitas, dan keberanian untuk mengambil keputusan serta memimpin ketika berada di tengah masyarakat.
Donny menilai kaderisasi perlu memberikan ruang yang lebih luas kepada anak muda untuk memperoleh pengalaman secara langsung. Organisasi, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi tempat belajar menjalankan rapat atau menyusun struktur kepengurusan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun jejaring, berinteraksi dengan masyarakat, mengembangkan solidaritas, serta belajar mengambil tanggung jawab.
“Pemuda harus diberikan ruang untuk bergerak, berkarya, berolahraga, bersosialisasi dan membangun jejaring. Dari ruang seperti itu karakter, solidaritas, kepemimpinan dan kepedulian sosial dapat tumbuh,” katanya.
Pandangan tersebut sejalan dengan aktivitas Donny melalui DAMAR ISMAN yang diarahkan sebagai ruang pembinaan generasi muda melalui berbagai kegiatan sosial dan olahraga.
Dalam pendekatan tersebut, olahraga tidak semata dipandang sebagai aktivitas untuk menjaga kebugaran. Lebih dari itu, olahraga dapat menjadi sarana mempertemukan anak muda, membangun kebersamaan, sekaligus membuka ruang interaksi yang mendukung pembentukan karakter.
Meski demikian, Donny menilai tantangan kaderisasi jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan ruang aktivitas. Organisasi kepemudaan juga harus mampu memastikan setiap ruang yang tersedia memberikan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan generasi muda sekaligus mendorong mereka untuk memahami persoalan di masyarakat.
Menjaga Tri Dharma Kosgoro
Dalam konteks Barisan Muda Kosgoro 1957, Donny mengingatkan pentingnya menjaga nilai perjuangan Tri Dharma Kosgoro 1957, yakni pengabdian, kerakyatan, dan solidaritas.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai semboyan organisasi. Prinsip tersebut harus diterjemahkan ke dalam berbagai kegiatan dan keputusan organisasi, termasuk dalam menentukan arah kaderisasi.
Nilai pengabdian menuntut organisasi untuk hadir dan bersentuhan dengan persoalan nyata di masyarakat. Kerakyatan menempatkan kepentingan masyarakat sebagai salah satu orientasi perjuangan, sedangkan solidaritas menjadi modal sosial bagi kader untuk bekerja bersama, baik di dalam maupun di luar organisasi.
Karena itu, Mubes V Barisan Muda Kosgoro 1957 memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar agenda internal organisasi. Forum tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana nilai-nilai yang diwariskan tetap relevan dengan kehidupan dan tantangan generasi muda saat ini.
Perubahan zaman turut mengubah cara anak muda berinteraksi, membangun jejaring, memperoleh informasi, hingga memandang organisasi. Kondisi tersebut menuntut organisasi kepemudaan untuk mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan nilai yang menjadi identitasnya.
Dari Struktur ke Manfaat
Harapan Donny terhadap Mubes V pada akhirnya bermuara pada satu ukuran, yakni manfaat nyata bagi masyarakat dan kader.
Kepengurusan baru diharapkan tidak hanya solid secara internal, tetapi juga mampu melahirkan rekomendasi strategis yang menjawab kebutuhan generasi muda. Organisasi juga diharapkan menjadi ruang bagi kader untuk memperoleh pengalaman kepemimpinan sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat.
“Yang terpenting adalah bagaimana organisasi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan menjadi ruang tumbuh bagi kepemimpinan muda,” ujar Donny.
Dengan demikian, tantangan bagi kepengurusan hasil Mubes V tidak berakhir ketika forum di Semarang ditutup pada 9 Agustus 2026. Justru setelah musyawarah selesai, proses kaderisasi dan pembuktian kerja organisasi dimulai.
Kepengurusan baru akan diuji melalui kemampuannya menerjemahkan keputusan musyawarah menjadi program kerja, membuka ruang partisipasi bagi kader, serta menjaga agar nilai pengabdian, kerakyatan, dan solidaritas tetap hidup dalam aktivitas organisasi.
Mubes V Barisan Muda Kosgoro 1957 diharapkan tidak hanya menjadi penanda pergantian generasi dalam struktur organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut dapat menjadi titik awal untuk membuktikan bahwa organisasi kepemudaan masih mampu menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar memimpin, membangun solidaritas, sekaligus menemukan cara memberikan manfaat bagi masyarakat.*** (Arie)






