SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) menyampaikan keprihatinan mendalam atas situasi sosial dan politik nasional yang belakangan kian bergejolak. Sebagai Kampus Bela Negara, UPNVJ menyerukan agar pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan publik sekaligus menjaga persatuan bangsa.

Rektor UPNVJ, Prof. Dr. Anter Venus, menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk bersuara ketika bangsa berada dalam situasi genting. “Aspirasi publik adalah hak yang dijamin konstitusi. Tetapi hak itu harus dijalankan dengan cara-cara bermartabat, etis, dan damai—bukan dengan anarki,” ujarnya di Jakarta, Senin (1/9).
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Ria Maria Theresa, menambahkan bahwa keresahan rakyat tidak boleh dijawab dengan represi. Menurutnya, kunci memulihkan kepercayaan publik ada pada hukum yang adil dan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. “Pemerintah dan DPR harus menunjukkan empati. Kebijakan yang lahir tidak boleh abai terhadap kesejahteraan rakyat,” kata Ria.
Dalam pernyataannya, UPNVJ mengimbau masyarakat tetap tenang dan menahan diri, menolak segala bentuk provokasi, penjarahan, serta perusakan fasilitas publik. Mereka juga mendorong aparat keamanan menghentikan penggunaan kekuatan berlebihan terhadap demonstran. “Polisi dan TNI harus kembali pada perannya sebagai pelindung rakyat, bukan menakut-nakuti,” tegas Ria.
Koordinator Umum UPNVJ Bergerak, Muhammad Raul Zikra, menyebut mahasiswa akan terus hadir di ruang publik sebagai agen perubahan. Ia menekankan bahwa kritik mahasiswa adalah suara moral, bukan ancaman. “Bangsa ini memang sedang tidak baik-baik saja. Kesulitan hidup menghimpit, aspirasi direpresi, supremasi sipil dipinggirkan. Karena itu suara kampus harus hadir, menjaga demokrasi dan mengingatkan bahwa rakyatlah pemilik kedaulatan,” ujar Raul.
UPNVJ juga menyampaikan duka cita atas gugurnya sejumlah korban dalam kericuhan aksi massa akhir Agustus lalu. Nama-nama seperti Affan Kurniawan, Reza Sandy Pratama, Saiful Akbar, Muhammad Akbar Basri, hingga Sarina Wati disebut sebagai bukti bahwa aspirasi rakyat dibayar mahal dengan nyawa. “Kami akan menggelar doa bersama untuk mereka. Kehilangan ini adalah luka bangsa,” kata Anter.
Sebagai penutup, Rektor menegaskan kembali identitas UPNVJ sebagai Kampus Bela Negara. “Membela negara bukan berarti tunduk pada kekuasaan,” ucapnya. “Membela negara berarti memastikan demokrasi tetap hidup, hukum ditegakkan dengan adil, dan kedaulatan rakyat tidak dirampas.” **






