Tugu Layur dan Wajah Baru Pelayanan di Kelurahan Palabuhanratu

SINARPAGINEWS.COM, KAB. SUKABUMI- Di halaman Kantor Kelurahan Palabuhanratu, seekor ikan layur raksasa kini berdiri tegak, seolah menyambut setiap warga dan tamu yang datang.

Tubuhnya memanjang, mengilap, merepresentasikan hasil laut yang akrab dalam kehidupan masyarakat pesisir. Namun lebih dari sekadar penanda wilayah, tugu itu menjadi simbol harmonisasi antara destinasi wisata dan pelayanan publik di Palabuhanratu.

Kelurahan Palabuhanratu bukan hanya pusat administrasi pemerintahan tingkat lokal. Ia berada di jantung kawasan wisata pesisir selatan Jawa Barat, tempat pantai dan aktivitas nelayan menjadi denyut ekonomi sekaligus daya tarik wisata. Maka ketika tugu layur dibangun di halaman kantor kelurahan, pesan yang ingin disampaikan jelas: pelayanan publik dan identitas wisata berjalan beriringan.

Identitas yang Berangkat dari Laut
Bagi masyarakat setempat, ikan layur bukan sekadar komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah hidup. Sejak puluhan tahun lalu, layur menjadi hasil tangkapan yang paling sering didapat nelayan. Bahkan warga yang sekadar memancing di tepian laut pun lebih akrab dengan layur dibanding jenis ikan lainnya.

Lurah Palabuhanratu, Yadi Supriadi, menuturkan bahwa gagasan tugu itu lahir dari realitas keseharian masyarakatnya.

“Ikan layur adalah identitas Palabuhanratu. Ini yang paling sering didapat nelayan. Jadi tidak ada maksud lain, kami hanya ingin menegaskan ciri khas daerah sendiri,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).

Menurutnya, pembangunan wilayah tidak harus selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, simbol sederhana yang berakar pada potensi lokal justru mampu menguatkan rasa memiliki masyarakat.

Pelayanan yang Humanis di Gerbang Wisata
Keberadaan tugu layur juga menjadi bagian dari penataan wajah kantor kelurahan.

Lingkungan dibuat lebih rapi dan representatif, menciptakan suasana nyaman bagi warga yang datang mengurus administrasi kependudukan, surat-menyurat, hingga pelayanan sosial lainnya.

“Kantor adalah rumah kedua. Harus dibuat nyaman, rapi, dan tertata. Dari situlah semangat membangun wilayah bisa tumbuh,” tutur Yadi.

Di sinilah harmoni itu terbangun. Wisatawan yang berkunjung ke Palabuhanratu melihat simbol layur sebagai ikon destinasi.

Sementara warga memaknainya sebagai representasi pelayanan yang dekat dengan identitas mereka. Satu simbol, dua makna yang saling menguatkan.

Landmark Baru, Cerita Baru
Pembangunan tugu yang kini telah mencapai sekitar 95 persen itu mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak yang menilai ikon tersebut benar-benar mencerminkan Palabuhanratu sebagai wilayah pesisir dengan potensi layur melimpah.

Di tengah geliat wisata pantai yang terus berkembang, kehadiran tugu layur menambah satu titik visual yang kuat. Ia bisa menjadi latar swafoto, titik temu, hingga simbol promosi yang mengingatkan orang bahwa Palabuhanratu bukan hanya tentang ombak dan pasir, tetapi juga tentang kehidupan nelayan dan kekayaan lautnya.

Dari halaman kelurahan, perjalanan wisata bisa berlanjut ke pantai, dermaga nelayan, hingga pusat kuliner seafood yang menyajikan layur dalam berbagai olahan khas. Identitas yang terpahat dalam beton itu seakan mengarahkan setiap langkah untuk lebih mengenal cerita di balik destinasi.

Jejak Kepemimpinan, Warisan Kebersamaan
Sebagai putra asli daerah, Yadi mengaku ingin meninggalkan kenangan yang bermakna selama masa kepemimpinannya. Bukan dalam bentuk kemewahan, melainkan simbol sederhana yang dapat dikenang.

Tugu layur hari ini berdiri sebagai warisan kebersamaan. Ia mengikat masa lalu—ketika nelayan menggantungkan hidup pada laut—dengan masa depan yang menuntut pelayanan publik semakin profesional dan humanis.

Di bawah langit pesisir yang terbuka, simbol itu menyampaikan pesan sunyi namun tegas: Palabuhanratu tumbuh dari laut, melayani dengan hati, dan menyambut siapa pun yang datang dengan identitas yang membanggakan.
Harmoni antara destinasi wisata dan pelayanan publik pun menemukan wujudnya dalam seekor layur yang kini menjadi penanda arah bagi sebuah kelurahan pesisir. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *