SINARPAGINEWS.COM, TEGAL – Biru Berbasis Mangrove
, Di sebuah pulau kecil di utara Kabupaten Brebes, para perempuan bangkit bukan hanya untuk
bertahan dari dampak perubahan iklim—tetapi untuk memimpin solusi dari tengah laut.
Pulau Cemara, yang dulu terancam abrasi dan keterpencilan, kini tumbuh menjadi model
Ketangguhan pesisir berbasis karbon biru—berkat kepemimpinan perempuan.
Dipimpin oleh Prof. Dr. Retno “Rini” Susilorini, Guru Besar Teknik Sipil dan Pengurangan
Risiko Bencana dari Universitas Pancasakti Tegal, riset dan intervensi di Pulau Cemara
dilakukan sepanjang tahun 2024 dengan dukungan dari Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Program ini berhasil menghadirkan infrastruktur adaptif
seperti kios apung ramah lingkungan, toilet apung untuk daerah pantai, kapal wisata
bertenaga surya, insinerator tanpa asap, hingga alat penyuling air laut—semuanya
dikelola dan dipimpin oleh kelompok pedagang perempuan setempat dengan tetap
bergandeng tangan dengan komunitas-komunitas setempat.
“Perempuan di sini bukan hanya menanam mangrove, mereka juga memulihkan martabat,
mengelola wisata, berjualan, dan menghidupkan ekonomi lokal,” ujar Prof. Rini.
Melalui kampanye Women at the Helm atau Perempuan sebagai Nahkoda, Prof. Rini
mengusung pendekatan yang menempatkan kearifan lokal, kepemimpinan perempuan,
dan inovasi teknologi sebagai inti dari adaptasi perubahan iklim yang adil dan berkelanjutan.
Kini, para perempuan Pulau Cemara tak hanya menjadi penjaga alam, tetapi juga menjadi
Pendidik, pelaku usaha, dan juru bicara perubahan iklim yang langsung berbicara
Kepada pengambil kebijakan yang berkunjung ke pulau.
Di peringatan Hari Kartini ini, pesan mereka tegas:
“Kami tidak menunggu diselamatkan. Kami memimpin perubahan.”(***).
Penulis: Prof. Dr. Rr. M. I. Retno Susilorini, S.T., M.T.
Kepala LPPM, Universitas Pancasakti Tegal






