Matinya Rasa Kemanusiaan Ditengah Genosida yang Tak Berkesudahan

SINARPAGINEWS.COM, MAJALENGKA – Palestina, hingga hari ini masih menjadi sasaran genosida penjajah Zionis Yahudi. Parahnya, serangan Zionis tak mengenal libur hari raya.

Pada hari pertama Idul Adha, Jumat (6/6/2025) lalu, serangan udara dan penembakan Israel di berbagai wilayah Gaza telah menyebabkan 33 warga Palestina kehilangan nyawa. Dan sedikitnya 17 warga Palestina dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (7/6/2025) dini hari waktu setempat, bertepatan dengan hari kedua perayaan Idul Adha (beritasatu.com, 7/6/2025).

Idul Adha, seharusnya mampu menjadi momen umat Islam bersuka cita, berqurban hewan sebagai wujud taat kepada Rabb-nya. Namun di Gaza, bukan lagi sapi maupun domba, melainkan nyawa manusialah yang menjadi objek pengorbanannya.

Tak hanya lewat serangan udara, penjajah Zionis juga menciptakan kondisi kelaparan ekstrim sebagai senjata untuk membunuh para warga dan generasi Palestina secara perlahan.

Bahkan, otoritas militer Israel mengeluarkan larangan bagi warga Palestina di Jalur Gaza untuk mendekati pusat-pusat distribusi bantuan. Lebih jauh, kantor media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa sejak 27 Mei lalu, serangan-serangan Israel di sekitar pusat distribusi yang dikelola GHF dan didukung oleh Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan 102 kematian dan mencederai 490 warga lainnya (beritasatu.com, 4/6/2025).

Mirisnya, meski kabar ini mengudara di seluruh dunia, negara-negara besar hanya menyaksikan dalam diamnya. Para Penguasa muslim hanya sibuk retorika tanpa tindakan nyata dengan segera mengirimkan pasukan untuk mengusir para penjajah Zionis Yahudi.

Padahal, Rasullullah Saw pernah bersabda; “Tidaklah seorang muslim yang tidak menolong muslim lainnya (padahal mampu menolongnya baik dengan perkataan maupun perbuatan) di tempat yang kehormatannya diganggu dan harga dirinya dicemarkan, kecuali Allah tidak akan menolongnya di tempat, dimana ia menginginkan pertolongan Allah, …” (HR. Abu Dawud).

Meski demikian, para penguasa muslim tetap terdiam dan terpaku, ditengah rasa kemanusiaan yang telah terkoyak hancur tak bersisa. Padahal, rasa kemanusiaan merupakan fitrah bagi setiap insan dan dimiliki oleh semua manusia.

Dan dari rasa ini, lahirlah keinginan kuat untuk menolong sesamanya, apalagi kepada mereka (muslim Palestina) yang dalam keadaan sangat membutuhkan pertolongan. Namun, ditengah gempuran genosida yang tak berkesudahan ini, rasa itu pun sungguh telah ikut terbunuh dan tiada.

Matinya rasa kemanusiaan, sesungguhnya telah menunjukkan mati pula sifat dasar dari seorang manusia. Hilangnya rasa kemanusiaan merupakan buah kapitalisme yang mengagungkan nilai materi dan rasa superior, disertai dengan kebencian atas sebagian golongan manusia lainnya.

Hasilnya, meski kekejaman entitas Zionis Yahudi sedemikian rupa, nyata tak mampu mengusik nurani para pemimpin muslim di seluruh penjuru dunia.

Fakta nasionalisme yang lahir dari Barat, telah menghalangi untuk bersikap adil pada umat muslim di Palestina. Tak ada seorang penguasa negeri muslim pun yang membebaskan Palestina dengan kekuatan senjata yang nyata. Meskipun jelas ditelinga mereka, seruan jihad dari umat untuk pembebasan bumi Palestina menggema dengan lantangnya.

Namun sejatinya, jihad ini tak mungkin terwujud tanpa adanya seruan langsung dari negara. Hanya saja, karakteristik negara hari ini, seakan menjadi fatamorgana dalam menyerukan jihad pembebasan bagi umat muslim di Palestina.

Mereka, rezim-rezim negara, justru dengan wajah tanpa dosa bergandengan tangan dengan penjajah Zionis Yahudi, melakukan penghianatan terhadap lebih dari 2 juta umat muslim di Palestina.

Sementara Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya; “Allah tidak melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusir kamu dari kampung halamanmu.

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan (mereka) sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim.” (TQS. Al-Mumtahanah : 8-9).

Sebab itulah, seruan jihad hanya akan mungkin dikumandangkan oleh negara Khilafah Islamiyyah saja. Hal yang kemudian mengharuskan umat untuk benar-benar berjuang menegakkan syariah dan Khilafah Islam.

Namun, tegaknya Khilafah ini, tidak mungkin terwujud ketika umat masih betah hidup dalam naungan sistem rusak kapitalisme sekularisme. Sehingga, dalam upaya menegakkan Khilafah ini, mau tidak mau, menuntut adanya kepemimpinan jamaah dakwah ideologis yang konsisten menyerukan tegaknya Khilafah.

Jamaah dakwah ideologis akan membangun kesadaran umat, dan menunjukkan jalan kemuliaan bagi umat. Sehingga umat benar-benar menyadari bahwa tidak adanya harapan, berharap dalam sistem kapitalis-sekuler saat ini.

Dan sudah seharusnya pula, umat segera menjawab seruan jamaah dakwah dan berjuang bersama-sama dalam menjemput nashrullah (pertolongan Allah), mengakhiri genosida dan membebaskan umat muslim Palestina dari segudang penderitaannya. Allahu’alam.

Oleh: Nunung Nurhayati (Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *