“Hari Tatar Sunda” sebagai Jati Diri dan Simbol Sejarah Masyarakat Jabar

Oleh: Wahyu Adam

18 Mei di Tahun 2026 ini akan menjadi tanggal yang “sakral” juga bersejarah bagi seluruh masyarakat Jawa Barat. Sebab, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) pada tanggal itu. Telah menatapkan sebagai “Hari Tatar Sunda”.

Hal itu, merujuk kepada napak tilas sejarah masa lalu di era kerajaan sunda yang begitu gemilang dan digjaya. Apa yang menjadi korelasi di hari ini, kejayaan masa lalu sepatutnya dijadikan sandaran oleh para pemangku kebijakan di Jabar. Bagaimana pemimpin dahulu, lebih memetingkan rakyatnya ketimbang mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

Pemimpin terdahulu bagaimana ia saat menjadi kepala pemerintahan, menjadi jenderal saat berperang juga saat di depan rakyatnya penuh kesahajaan tanpa sekat, lebih kepada “human to human” (memanusiakan rakyatnya). Ini-lah suri tauladan yang bisa di anut oleh para pemangku kebijakan di Jabar saat ini.

18 Mei yang akan datang, bagi masyarakat Jabar menjadi kado terindah sebagai rasa memiliki juga kecintaan akan keagungan serta kedigjayaan masa lalu. Masa lalu hanya sebagai sejarah dan pengingat serta di masa sekarang sebagai harapan juga impian.

“Hari Tatar Sunda” merupakan hari dimana keagungan dan kedigjayaan masa lalu, dijadikan motivasi bagi Pemprov Jabar dalam menata juga mengelola pemerintahan juga rakyatnya. Agar berkeadilan, berkemajemukan serta sejahtera. Supaya apa yang di torehkan para pendahulu menular di saat sekarang.

“Hari Tatar Sunda” yang telah ditetapkan oleh Pemprov Jabar bahkan telah menjadi agenda tahunan. Hal itu, perlu didedikasikan dengan karya yang nyata juga berkelanjutan. Jangan sampai, sebagai seremonial semata.

Kebersamaan dan menjungjung tinggi nilai-nilai luhur yang di jalankan oleh para petinggi juga rakyat masa lalu, baik mengelola negara maupun alamnya. Ini bisa di tiru oleh para pemangku kebijakan di Jabar saat sekarang. Bagaimana alam bisa seimbang, masyarakat rukun dan sejahtera secara ekonomi.

Masyarakat Jabar pada umumnya orangnya relatif baik dan rukun. Hal itu, ada kemiripan secara genetik yang kuat dari terdahulunya. Tinggal bagaimana caranya para pemangku kebijakan di Jabar, bisa melihat dan mencerna akan hal ini.

“Hari Tatar Sunda” bukan hanya sebagai simbol saja, akan tetapi jadi “Jati Diri” sebagai karakteristik masyarakat Jabar yang; taat, bersahabat juga berkerabat.

Kehidupan masyarakat Jabar secara filosofi kecenderungannya lebih menjunjung tinggi keberadaban dan kebersamaan. Seperti kita sering pernah dengar maupun lihat bentuk tulisan, contohnya; silih asah, silih asuh dan silih asih atau juga; sareundeuk, sabobot, saigeul dan sapihaneam.

Filosofi dalam.uraian kata-kata tersebut, menandakan karakteristik masyarakat Jabar di masa lalu. Untuk di masa sekarang sepertinya masih relevan untuk.di gelorakan dan di laksanakan dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa juga bernegara.

Sepatutnya bagi masyarakat Jabar secara umum, mari kita jadikan Tanggal 18 Mei mendatang sebagai tanggal bersejarah juga perjuangan dalam menjalankan kehidupan kita dalam berbangsa juga bernegara. Saatnya Jabar berpijak saatnya Jabar punya cerita dan saatnya Jabar digjaya di Nusantara. Selamat “Hari Tatar Sunda” Jabar Digjaya Sunda Mamprang ka Nusantara.

 

Penulis Pengiat Media juga Putra Asli Sunda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *