SINARPAGINEWS.COM, GARUT —Mantan Bupati Garut sekaligus tokoh sepuh Jawa Barat, H. Agus Supriadi, angkat bicara mengenai dinamika satu tahun kepemimpinan di Kabupaten Garut.
Menanggapi pengakuan jujur Wakil Bupati terkait adanya hambatan perubahan, Agus Supriadi menilai hal tersebut merupakan sinyalemen kuat adanya “sumbatan” di level perangkat daerah yang gagal menerjemahkan visi pimpinan.
Agus menekankan bahwa sebuah kepemimpinan daerah adalah bangunan utuh, di mana keberhasilan Bupati dan Wakil Bupati sangat bergantung pada fungsionalitas struktur di bawahnya.
Filosofi Kepemimpinan: Orkestra yang Harmoni
Dengan nada bicara yang dewasa namun tajam, Agus Supriadi menyebut bahwa sportivitas yang ditunjukkan Wakil Bupati saat ini seharusnya menjadi tamparan bagi para pembantunya di jajaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
“Kepemimpinan adalah sebuah orkestra. Kinerja Bupati dan Wakil Bupati harus ditunjang secara mutlak oleh struktur dan perangkat daerah yang kokoh untuk menopang visi-misi mereka. Narasi yang berkembang jangan sampai memberikan kesan bahwa para pembantunya tidak bekerja, atau lebih buruk lagi, hanya terjebak dalam rutinitas administrasi dan kegemaran seremonial tanpa isi,” ujar Agus Supriadi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2).
Kritik Tajam Pengelolaan Anggaran dan Strategi
Sebagai sosok yang pernah menakhodai Garut, Agus mengingatkan bahwa anggaran daerah bukan sekadar deretan angka, melainkan manifestasi dari perhatian penuh pemerintah kepada rakyat. Ia menyayangkan jika SKPD tidak mampu mengimplementasikan strategi pembangunan dengan cakap.
“Para pembantu pimpinan itu harus memiliki kompetensi yang mumpuni. Mereka wajib mampu mengimplementasikan strategi pembangunan berdasarkan visi-misi dan Renstra pimpinan daerah secara presisi. Jangan sampai kita mengecewakan rakyat. Ini menyangkut anggaran besar dan nasib masyarakat Garut; bukan tempat untuk sekadar menggugurkan kewajiban seremonial,” tegasnya dengan penuh wibawa.
Loyalitas Tunggal kepada Rakyat
Agus Supriadi menutup pernyataannya dengan pesan filosofis tentang loyalitas abdi negara. Ia mendesak adanya evaluasi mendalam terhadap performa perangkat daerah yang dinilai lamban dan tidak apresiatif terhadap akselerasi yang diinginkan pimpinan daerah.
“Jangan mengecewakan pimpinan, karena itu berarti mengecewakan rakyat Garut. SKPD harus menjadi motor penggerak yang responsif, bukan penghambat. Loyalitas seorang abdi negara harus tegak lurus pada kepentingan masyarakat melalui eksekusi program yang nyata. Jika birokrasinya hanya ‘jalan di tempat’, maka janji politik pimpinan hanya akan menjadi catatan di atas kertas,” tutup sang sesepuh Garut tersebut.






