SINARPAGINEWS.COM, BANDUNG – Upaya memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perempuan terus dilakukan melalui penguatan kapasitas di bidang teknologi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan digital. Hal itu diwujudkan dalam kegiatan Bootcamp FemaleTechpreneur yang digelar oleh International Women University (IWU) bekerja sama dengan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Barat.
Kegiatan yang berlangsung secara daring dan luring pada 27–30 Juni 2026 itu ditutup di Aula Gedung Sekolah Perempuan Jawa Barat, Jalan PHH Mustafa No. 22, Bandung, Rabu (1/7/2026). Bootcamp diikuti pelaku UMKM perempuan, calon wirausaha, komunitas, hingga pendamping UMKM dari berbagai wilayah di Kota Bandung.
Mengusung tema “Tingkatkan Pengelolaan Keuangan Digital, Perkuat Branding, dan Kembangkan Kemasan Produk Berbasis Teknologi untuk UMKM Perempuan”, program ini merupakan bagian dari hibah penelitian yang didukung DP3AKB Provinsi Jawa Barat dan didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala DP3AKB Provinsi Jawa Barat dr. Siska Gerfianti, Sp.DLP., M.HKes., Wakil Rektor I UNIKOM sekaligus Kepala Sekolah Perempuan Jawa Barat Prof. Dr. Umi Narimawati, Dra., S.E., M.Si., M.Pd., serta Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan IWU Assoc. Prof. Dr. Inta Budi Setya Nusa, S.E., M.Ak.
Selama bootcamp, peserta mendapatkan materi mengenai transformasi digital UMKM, literasi keuangan digital, adopsi teknologi, strategi branding dan pemasaran, hingga praktik pengembangan kemasan produk berbasis Augmented Reality (AR) serta pencatatan keuangan digital menggunakan aplikasi.
Ketua Pelaksana sekaligus pemateri branding UMKM, Yoki Oktorian Sukardi, S.Kom., M.A.B., mengatakan penelitian tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi pelaku UMKM perempuan.
“Kami ingin hasil penelitian ini benar-benar terimplementasi. Selain meningkatkan literasi digital pelaku UMKM, kami juga mengembangkan aplikasi berbasis Augmented Reality untuk membantu pelaku usaha merancang kemasan produk yang lebih efektif dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Menurut Yoki, kemasan kini tidak lagi sekadar berfungsi melindungi produk, tetapi telah menjadi identitas merek sekaligus alat branding yang menentukan kesan pertama konsumen.
“Desain kemasan yang menarik mampu meningkatkan nilai jual produk, memperluas penetrasi pasar, serta mendorong keputusan pembelian. Sebaliknya, kemasan yang kurang menarik dapat membuat produk berkualitas kehilangan nilainya di mata konsumen,” jelasnya.
Sementara itu, pemateri Arif Rachmat Darmawan, S.Kom., menjelaskan pemanfaatan teknologi Augmented Reality dapat mengubah label kemasan menjadi media interaktif yang mampu menampilkan informasi produk, sertifikasi halal, BPOM, hingga visualisasi tiga dimensi hanya melalui satu kali pemindaian.
“Teknologi AR memberi kesempatan bagi UMKM untuk tampil setara dengan merek besar tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk cetak maupun iklan. Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk mulai berinovasi,” katanya.
Pada sesi literasi keuangan digital, Cicie Prilianti, S.E., BBA., M.Ak. memperkenalkan penggunaan aplikasi Buku Warung sebagai sarana pencatatan keuangan, penyusunan laporan, hingga analisis keuangan usaha.
Menurutnya, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari tingginya penjualan, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha mengelola keuangan secara tertib dan berkelanjutan.
“Pencatatan keuangan yang baik menjadi fondasi dalam merancang masa depan usaha. Digitalisasi pengelolaan keuangan membantu UMKM mengambil keputusan bisnis dengan lebih tepat,” pungkasnya.
Melalui Bootcamp FemaleTechpreneur, penyelenggara berharap semakin banyak pelaku UMKM perempuan yang mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperkuat branding, meningkatkan kualitas kemasan, serta mengelola keuangan secara profesional sehingga mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Jurnalis: Lies K
Editor: Iyan Sopyan





