EwasteRJ Gandeng Acer Edukasi Pengelolaan Sampah Elektronik di 50 Sekolah

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Perusahaan pengelola sampah elektronik, EwasteRJ, menggandeng Acer Indonesia untuk mengedukasi pengelolaan sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) di 50 sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Jabodetabek. Kolaborasi melalui program Sayang Bumi 2026 itu juga menargetkan pengumpulan 5 ton sampah elektronik hingga November 2026 sebagai bagian dari upaya membangun budaya daur ulang dan ekonomi sirkular sejak usia sekolah.

Program tersebut diluncurkan di SMAN 82 Jakarta Selatan pada Kamis, 11 Juni 2026, dalam kegiatan talkshow dan konferensi pers bertajuk A Conversation About Sustainability: Membangun Cetak Biru Sirkular dari Sekolah untuk Jakarta yang Lebih Hijau. Acara itu menghadirkan Founder dan CEO EwasteRJ Rafa Jafar, Presiden Direktur Acer Indonesia Leny Ng, Kepala SMAN 82 Jakarta Istiqomah, serta dihadiri Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono.

Founder dan CEO EwasteRJ, Rafa Jafar, mengatakan program tersebut berangkat dari keresahan yang ia rasakan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia menemukan banyak perangkat elektronik lama yang tersimpan di rumah tanpa diketahui cara pengelolaannya.

“Saya tumbuh di era teknologi yang berkembang sangat cepat. Setiap tahun ada perangkat baru, tetapi tidak pernah ada yang mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika perangkat itu rusak atau tidak digunakan lagi. Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi awal perjalanan EwasteRJ,” kata Rafa.

Menurut dia, persoalan sampah elektronik tidak hanya terjadi di lingkungan rumah tangga, tetapi juga di sekolah, perkantoran, industri, hingga instansi pemerintah. Banyak pihak yang ingin mengelola limbah elektronik dengan benar, namun belum memiliki akses dan fasilitas yang memadai.

“Bukan karena masyarakat tidak peduli, tetapi karena sistemnya belum tersedia secara luas. Karena itu kami percaya solusi sampah elektronik tidak bisa diselesaikan sendiri. Harus ada kolaborasi antara pemerintah, industri, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.

Sekolah Jadi Titik Awal Perubahan

Rafa menjelaskan, sekolah dipilih sebagai fokus program karena dinilai memiliki dampak edukasi yang luas. Pengetahuan yang diterima siswa dapat diteruskan kepada keluarga dan lingkungan sekitar sehingga menciptakan perubahan perilaku yang lebih besar.

“Kami percaya edukasi adalah kunci. Ketika siswa memahami pentingnya pengelolaan sampah elektronik, pesan itu akan sampai ke rumah. Orang tua jadi ikut sadar, keluarga ikut terlibat, dan efeknya bisa berlipat ganda,” katanya.

Melalui program Sayang Bumi 2026, sebanyak 50 sekolah di Jabodetabek akan mendapatkan edukasi mengenai bahaya sampah elektronik, pelatihan ekonomi sirkular, penyediaan dropbox e-waste permanen, layanan pengangkutan, hingga proses daur ulang yang dilakukan secara bertanggung jawab.

Selain menargetkan pengumpulan 5 ton sampah elektronik, program tersebut juga diharapkan mampu menciptakan agen perubahan lingkungan di kalangan pelajar.

“Target lima ton memang penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun kebiasaan baru. Kami ingin siswa memahami bahwa teknologi yang mereka gunakan hari ini juga memiliki dampak lingkungan yang harus dikelola dengan baik,” ujar Rafa.

Sampah Elektronik Terus Meningkat

Persoalan sampah elektronik menjadi tantangan yang semakin besar seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital. Berdasarkan data Global E-Waste Monitor 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton sampah elektronik pada 2022 dan menjadi salah satu negara penyumbang e-waste terbesar di Asia Tenggara.

Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup, Mardalina, mengatakan limbah elektronik memiliki karakteristik khusus karena mengandung bahan berbahaya dan beracun yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak dikelola dengan benar.

“Jika dibuang sembarangan, sampah elektronik dapat mencemari tanah dan air, bahkan memicu kebakaran di tempat pemrosesan akhir. Karena itu pemilahan dan pengumpulan dari sumber menjadi sangat penting,” katanya.

Menurut dia, pemerintah telah memperkuat regulasi pengelolaan sampah elektronik melalui berbagai kebijakan, termasuk Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 9 Tahun 2024.

Mardalina menilai kolaborasi yang dilakukan EwasteRJ dan Acer Indonesia dapat menjadi contoh penerapan pengelolaan sampah elektronik dari hulu.

“Sekolah merupakan tempat yang tepat untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini. Ketika siswa terbiasa melakukan itu, maka kesadaran lingkungan akan tumbuh secara berkelanjutan,” ujarnya.

Dorong Ekonomi Sirkular

Presiden Direktur Acer Indonesia, Leny Ng, mengatakan program Sayang Bumi merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung pengelolaan limbah elektronik dan ekonomi sirkular.

Menurut dia, sampah elektronik tidak hanya harus dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber daya yang masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan tepat.

“Selama enam tahun menjalankan program #SayangBumi, kami melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Melalui sekolah, kami ingin mengajak generasi muda menjadi bagian dari solusi lingkungan,” kata Leny.

Seluruh sampah elektronik yang terkumpul nantinya akan ditimbang, didata, dan disalurkan ke fasilitas daur ulang berizin yang bekerja sama dengan EwasteRJ. Material yang masih bernilai akan diproses kembali menjadi bahan baku industri sehingga mendukung penerapan ekonomi sirkular.

Rafa berharap program tersebut dapat menjadi model pengelolaan sampah elektronik berbasis sekolah yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.

“Kami bermimpi setiap orang memiliki akses untuk mendaur ulang sampah elektronik dengan mudah. Jika ekosistemnya terbangun, maka kita tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru dari pengelolaan e-waste,” pungkasnya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *