SINARPAGINEWS.COM, MAJALENGKA – Memasuki bulan puasa, harga cabai rawit merah di pasar tradisional Kabupaten Majalengka mengalami kenaikan. Hal itu dikarenakan pengaruh kondisi cuaca yang berimbas pada menurunnya hasil panen petani.
Seperti yang terlihat di Pasar Sindangkasih, Kecamatan Cigasong, cabai rawit merah kini mencapai Rp 120 ribu per kilogram. Padahal, dalam kondisi normal, harganya di kisaran Rp 60 ribu per kilogram. “Harga naik karena pasokan dari petaninya menurun,” ujar salah seorang pedagang, Jumat (28/2/2025).
Selain cabai rawit merah, kenaikan harga juga terjadi pada komoditas daging sapi dari Rp 140 ribu per kilogram menjadi Rp 150 ribu per kilogram, daging ayam dari Rp 40 ribu per kilogram menjadi Rp 47 ribu per kilogram dan cabai merah dari Rp 59 ribu per kilogram menjadi Rp 60 ribu per kilogram.
Perubahan cuaca menjadi alasan kuat naiknya bahan pokok. Alasan ini bisa diterima untuk bawang merah, bawang putih, atau cabai. Kalau untuk kebutuhan lain, seharusnya tidak terpengaruh. Hingga saat ini, belum ada upaya serius untuk membuat fluktuasi harga kebutuhan tidak terlalu besar.
Pemerintah seyogianya dapat melakukan riset untuk menghadapi perubahan cuaca. Dari penelitian itu, pemerintah dapat menemukan benih kualitas unggul yang tahan cuaca. Proses penanam terbaik dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi canggih hingga menyediakan pupuk yang baik agar tanaman tersebut subur.
Akar Masalah
Jika masalah datang dari distribusinya, pemerintah harusnya memudahkan proses distribusi itu. Selama ini, rantai distribusi kebutuhan pokok sangat panjang. Agar sampai pada konsumen, barang tersebut melewati beberapa pedagang. Sehingga, pemerintah perlu memperpendek rantai distribusi.
Masalah yang tidak kalah penting adalah adanya pengusaha swasta yang memanfaatkannya. Kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, dan lain-lain sering menjadi sasaran empuk para pengusaha. Mereka membeli padi dengan harga miring dari petani. Kemudian mengolah dan memasarkan dengan harga berkali-kali lipat.
Mereka punya modal besar, membuat pengusaha yang punya modal kecil kalah saing. Oleh karena itu, pemerintah perlu punya kebijakan khusus. Mengatur agar para pengusaha besar itu tidak memonopoli pasar, dan meninggikan harga berlebihan.
Sejatinya penyelesaian tuntas tidak mungkin terjadi jika negara menerapkan sistem kapitalisme. Dalam kapitalisme, para pengusahalah penguasa sesungguhnya. Regulasi yang ada hanya lahir sesuai keinginannya. Ini karena kapitalisme memiliki orientasi materi, bukan pelayan rakyat.
Selama penguasa mengikuti kebijakan pasar bebas, mereka harus impor bahan pokok. Jadi, ada masalah kelangkaan atau tidak di dalam negeri, impor tetap harus dilaksanakan karena terikat dengan perjanjian perdagangan bebas. Kalau negara tidak memiliki kedaulatan sendiri, mustahil bisa menyejahterakan rakyat ataupun tegas mengambil keputusan terkait urusan luar negeri.
Solusi Islam
Dalam pandangan Islam seorang pemimpin adalah pelayan rakyat. Mereka menjalankan amanah sesuai pandangan syara. Sehingga setiap upaya mengambil keputusan bukanlah karena alasan kerja sama, keuntungan materi, dalam pengaruh oligarki, atau demi keuntungan sendiri.
Di sisi lain dengan sistem ekonomi Islam, yaitu pengelolaan keuangan secara Baitumal, akan mampu membiayai riset. Sehingga akan menghasilkan produk unggul sesuai kebutuhan. Petani tidak perlu membeli mahal, karena negara akan menjual dengan harga terjangkau.
Islam juga memiliki sanksi yang tegas. Bagi pengusaha yang melanggar kebijakan negara, akan ditindak sesuai dengan aturan. Islam juga tidak akan membiarkan para oligarki tumbuh subur dan pada akhirnya mencekik rakyat dengan harga tinggi. Secara alami, rantai distribusi akan terkendali dan kenaikan harga bisa diatasi.
Islam juga punya kebijakan untuk orang yang tidak mampu. Mereka yang tergolong delapan orang yang menerima zakat akan dipenuhi haknya hingga tidak termasuk dalam kelompok itu. Salain itu, negara juga memberikan modal atau membuka lapangan kerja.
Itulah beberapa kebijakan Islam terkait pemenuhan kebutuhan pokok. Semua kebijakan itu hanya dapat terwujud jika penguasa mau mengambil Islam sebagai landasan dalam bernegara.
Wallahu a’lam bishshawab.
Oleh : Tawati (Aktivis Muslimah Majalengka)






