Ramadhan di Palestina Masih Dalam Ancaman Penjajahan

PALESTINA – Kondisi Palestina masih tak beranjak dari keterpurukan dan kesedihan. Padahal sekarang sudah memasuki bulan Ramadhan dan hari kemenangan ada di depan mata. Signal penjajahan terasa akan terus berlangsung, tergambar dari ucapan Presiden Amerika Trump yang mengusulkan AS untuk “membeli dan memiliki Gaza” dan agar 2,4 juta penduduknya direlokasi ke negara tetangga, Mesir dan Yordania. Hamas menyebut pernyataan ini tersebut sebagai tindakan “rasis” dan “undangan untuk pembersihan etnis” yang bertujuan menghapus perjuangan Palestina (detiknews, 10/02/2025).

Tentu saja, rencana Trump mengundang kemarahan global. Para pemimpin negara-negara Arab bertemu di Arab Saudi untuk membahas perlawanan terhadap rencana Presiden AS Donald Trump tersebut. Pertemuan yang digelar pada Jumat (21/2) waktu setempat, dihadiri pemimpin dari 7 negara Arab. Masing-masing Arab Saudi, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain (cnbcindonesia.com, 22/02/2025).

Meskipun saat ini memasuki babak baru yakni gencatan senjata, namun pengkhianatan Zionis atas perjanjian gencatan senjata terus terjadi. Dalam gencatan senjata tahap pertama yang berakhir pada hari Sabtu (1/3/2025), disepakati sebanyak 33 sandera warga Israel dan 5 sandera warga negara Thailand dibebaskan. Pembebasan mereka ditukar dengan 2 ribu tahanan warga Palestina yang ditahan di berbagai penjara di Israel. Namun, sampai detik ini Israel tidak melaksanakannya.

Sungguh, berat sekali ujian yang menimpa saudara-saudara kita di Palestina. Puluhan tahun hidup dalam ancaman penjajahan. Adagium yang dilontarkan para jurnalis dunia bahwa Palestina adalah “the most genocide documented”, menunjukan dunia sedang tidak baik-baik saja, padahal ketidak adilan ada di hadapan mereka. Sementara itu, para penguasa negeri muslim cenderung diam dan menjadi ‘pelindung’ Zionis sebab negara mereka masih melakukan kerjasama dan menyuplai gas, air dan listrik pada Israel.

Rencana Trump yang ingin mengusir warga Gaza telah menyatukan negara-negara Arab, bahkan dikatakan sebagai kesatuan yang belum terjalin sebelumnya. Namun dalam rapat pertemuan 7 negara tersebut masih ada perbedaan pendapat mengenai siapa yang harus memerintah daerah kantong tersebut dan bagaimana mendanai rekonstruksi pembangunan di Gaza.

Sungguh, kesakitan yang terjadi di Palestina disebabkan karena umat Islam tidak memiliki pelindung atau junnah.
Umat seharusnya makin menyadari pentingnya kepemimpinan Islam untuk melawan dan mengusir orang-orang kafir dari tanah Palestina. Dan menyadari ketiadaan Junnah kaum Muslimin berarti membiarkan umat muslim di Gaza hidup sengsara, padahal mereka adalah saudara seiman dan seaqidah kita.

Yang dimaksud dengan pelindung umat Islam itu adalah Khilafah atau Negara Islam. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Ia akan dijadikan perisai yang orang-orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika ia memerintahkan bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan adil, maka dengannya ia akan mendapatkan pahala. Akan tetapi, jika ia memerintahkan yang lain, ia juga yang akan mendapatkan dosa/azab karenanya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Khalifah terakhir umat Islam yakni Abdul Hamid II masih melindungi tanah Palestina. Tokoh pendiri negara Zionis Israel, Theodore Herzl, berkali-kali datang membujuk dan menyogok Khalifah agar memberikan sebagian wilayahnya di Palestina untuk bangsa Yahudi. Tentu saja ditolak dan dijawab oleh beliau: “Aku tidak akan melepaskan walaupun sejengkal tanah ini (Palestina) karena ia bukan milikku. Tanah itu adalah hak umat Islam. Umat Islam telah berjihad demi kepentingan Palestina. Mereka telah menyiraminya dengan darah mereka”.

Tegaknya Khilafah sebagai junnah membutuhkan dakwah dari kelompok dakwah Islam ideologis yang menyeru umat untuk memahami islam secara kaffah dan berjuang dengan menempuh jalan sebagaimana kelompok dakwah Rasulullah swt. Sebagaimana dalam firman Allah swt: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran: 104).

Oleh karena itu, mari kita segera merapat pada barisan atau kelompok dakwah yang berjuang menegakkan kembali Khilafah, menghidupkan kembali kehidupan Islam dan menerapkan kepemimpinan umat agar saudara-saudara Muslim di Palestina bisa melaksanakan Ibadah di bulan Ramadhan tanpa ancaman penjajahan. Hanya kekhusyuan dan ketenangan yang menyeliputi hati mereka. Sebagaimana mana kita di sini. Aman dan tanpa ada ancaman bom dan dentuman senjata, insyaAllah. Wallahu’alam bishawab.

Oleh: Ika Mustaqiroh (Mompreneur)