YAPMI Soroti Generasi Muda yang Makin Jauh dari Budaya Indonesia

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Yayasan Pembina Model Indonesia (YAPMI) menyoroti fenomena generasi muda yang dinilai makin jauh dari akar budaya Indonesia dalam gelaran Grand Final “Generasi Budaya Indonesia Top Model 2025” di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Jumat, 28 November 2025. Ketua Umum YAPMI, Iwan Setiawan Masse, menegaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini bukan sekadar kompetisi modeling, tetapi upaya edukasi untuk menarik minat anak-anak pada budaya Nusantara di tengah derasnya pengaruh global.

“Sekarang anak-anak lebih mengenal budaya luar daripada budaya sendiri. Ini alarm keras. Melalui ajang ini kami ingin menanamkan kembali kebanggaan pada budaya Indonesia,” ujar Iwan dalam konferensi pers.

 

Acara yang telah berlangsung selama 45 tahun itu menghadirkan ratusan peserta dari 38 provinsi, seluruhnya tampil mengenakan kostum etnik daerah masing-masing. Runway Grand Final berubah menjadi panggung identitas Nusantara, menampilkan batik, tenun, songket, busana adat, hingga ornamen khas Papua, Kalimantan, Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.

Kategori peserta dibagi dalam empat kelompok: Kids A (3–6 tahun), Kids B (7–10 tahun), Kids C (11–14 tahun), serta Peragawan/Peragawati (15–25 tahun). Seluruh peserta juga dibekali pembinaan public speaking, etika, serta pengetahuan budaya selama masa karantina.

Papua menjadi kontingen terbesar tahun ini dan mencatat rekor baru bagi YAPMI. “Papua sangat antusias. Mereka datang dengan dukungan penuh pemerintah daerah. Daerah lain harusnya belajar dari Papua,” kata Iwan.

Grand Final turut menghadirkan dewan juri dari beragam profesi, mulai dari pakar modeling, dokter estetika, musisi, hingga tokoh publik. Mereka menilai peserta bukan hanya dari sisi penampilan, tetapi juga kemampuan menjelaskan makna budaya yang mereka bawa. “Yang kami cari bukan sekadar model, tetapi duta budaya,” ujarnya.

Meski berlangsung meriah, Iwan menyampaikan kritik terhadap perubahan kebijakan manajemen TMII yang dinilai membebani penyelenggara. Ia menuturkan bahwa YAPMI awalnya dijanjikan fasilitas tanpa biaya, namun mendadak diwajibkan membayar akses masuk, parkir, hingga penggunaan gedung. “Kami ini yayasan yang bergerak di pendidikan. Bukan perusahaan. Kebijakan yang berubah-ubah seperti ini mempersulit,” tegasnya.

Karantina peserta tahun ini mendapat dukungan penuh dari Museum Listrik dan Energi Baru PLN Group yang menyediakan fasilitas dan akomodasi. Iwan menyebut museum lebih komunikatif dan kooperatif dibanding manajemen TMII. “Museum Listrik sangat membantu. Mereka paham kegiatan budaya seperti ini,” katanya.

Sejumlah public figure yang merupakan alumni YAPMI turut hadir memberi dukungan, termasuk Barbie Kumalasari. “Anak-anak sekarang hafal budaya luar, tapi lupa budaya sendiri. Ajang seperti ini penting untuk mengingatkan mereka,” ujarnya.

Iwan menutup acara dengan rencana besar: memindahkan Grand Final Top Model Indonesia 2026 ke Ibu Kota Nusantara (IKN). “Kami ingin membuka tahun depan di IKN. Semoga pemerintah mendukung. YAPMI siap membawa budaya Indonesia ke panggung ibu kota baru,” katanya.

Selama 45 tahun perjalanan, YAPMI menegaskan posisinya sebagai lembaga pembinaan yang fokus pada budaya, etika, dan karakter. “Tidak ada KKN, tidak ada nepotisme. Kami membina anak-anak agar tumbuh menjadi generasi yang paham budaya dan berkarakter,” kata Iwan.**

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *