SINARPAGINEWS.COM, PAPUA — Momentum 1 Mei kembali dimaknai sebagai titik refleksi sejarah sekaligus penguatan persatuan Papua dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini disampaikan Steve R. E. Mara, mahasiswa program doktoral asal Papua yang tengah menempuh studi di Inggris dan menjabat Ketua Melanesian Youth Diplomacy Forum.
Dalam keterangan resminya pada Senin, 27 April 2026, Steve R. E. Mara menyampaikan bahwa pemahaman yang komprehensif terhadap sejarah Papua merupakan fondasi penting dalam memperkuat persatuan nasional serta mendorong peran aktif generasi muda dalam pembangunan. Ia menegaskan bahwa proses integrasi Papua ke dalam NKRI tidak terlepas dari dinamika dekolonisasi global yang melibatkan berbagai pihak, termasuk komunitas internasional, melalui tahapan diplomasi yang sah dan diakui secara hukum internasional.
Ia menjelaskan, proses tersebut antara lain melalui Konferensi Meja Bundar hingga Perjanjian New York yang menjadi landasan diplomasi penyelesaian status Papua. Menurutnya, puncak dari proses tersebut terjadi pada 1 Mei 1963 saat Papua secara resmi diserahkan kepada Indonesia melalui mekanisme yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa.
“Peristiwa ini merupakan bagian dari sejarah yang harus dipahami secara utuh, karena melibatkan kesepakatan internasional dan mekanisme hukum yang berlaku,” ujar Steve.
Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda Papua untuk tidak terjebak dalam polemik masa lalu, melainkan fokus pada upaya membangun masa depan yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan serta keterlibatan aktif dalam pembangunan di berbagai sektor.
Menurut dia, generasi muda memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan daerah dan menjaga persatuan bangsa. “Kita harus mengambil peran, meningkatkan kapasitas diri, dan berkontribusi nyata bagi pembangunan Papua dan Indonesia,” katanya.
Steve juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak akurat maupun narasi yang berpotensi memecah belah persatuan. Ia menilai literasi informasi menjadi kunci dalam menjaga stabilitas sosial di tengah arus informasi yang semakin cepat.
Ia berharap Papua dapat terus berkembang melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda. Menurutnya, terciptanya kondisi yang aman, damai, dan kondusif merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Tanah Papua.***






