SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Sore itu, lantunan musik city pop bercampur dentingan synthesizer mengalun di sebuah panggung di pusat Jakarta. Lima perempuan muda, masing-masing dengan gaya dan karakter berbeda, bergerak lincah mengikuti irama. Sorak penonton mengiringi debut resmi girlband multinasional PAPION pada 14 Juni 2025, Sebuah penampilan yang bukan hanya menandai kelahiran grup baru, tapi juga ambisi Indonesia menempatkan diri di peta musik pop Asia.
Nama PAPION berasal dari papillon, bahasa Prancis untuk kupu-kupu simbol transformasi, kebebasan berekspresi, dan keberagaman. “Kami bukan untuk diseragamkan, tapi untuk merayakan perbedaan,” kata Naufa, anggota termuda grup, usai konferensi pers.
Formasi Global
Grup ini beranggotakan Angel, Naufa, dan Farah dari Indonesia, Naia dari Amerika Serikat, serta Ponn dari Thailand. Latar belakang mereka mencerminkan ambisi global yang diusung manajemen. Angel adalah mantan model internasional yang fasih Mandarin dan ingin berbagi cerita lewat musik. Naufa membawa karakter androgini dan dasar musik klasik. Farah menghadirkan nuansa hangat dan membumi. Naia, vokalis utama, memiliki pengalaman lintas budaya setelah tinggal di berbagai negara. Ponn adalah penari terlatih dari sekolah tari yang sama dengan Lisa Blackpink.
“Aku sudah mengimpikan panggung seperti ini sejak kecil,” ujar Ponn, yang mengaku tumbuh dengan K-pop dan mulai belajar menari sejak usia 11 tahun.
Strategi Musik dan Branding
PAPION tak dibentuk untuk sekadar memikat pasar lokal. Single perdana mereka, Push the Button, diproduksi musisi Jepang Ryo ‘LEFTY’ Miyata, dengan koreografi Park Jihyo dari Korea Selatan. Lagu ini mengusung tema keberanian mengambil keputusan dengan sentuhan retro city pop. Video musiknya telah ditonton ratusan ribu kali di YouTube.
Lagu kedua, Song from My Heart, bernuansa persahabatan dan dipilih menjadi soundtrack kampanye nasional Pocari Sweat. Video musiknya digarap di Jepang dan menembus 1 juta penonton hanya dalam dua minggu.
Showcase debut mereka menunjukkan kualitas yang telah diasah dengan standar internasional: vokal harmonis, koreografi presisi, dan penampilan panggung yang matang. “Ini baru awal, kami siap tumbuh bersama kalian,” kata Ponn kepada penonton.
Menembus Batas Pasar
Manajemen PAPION memproyeksikan grup ini sebagai produk ekspor kreatif. Target pasar mereka mencakup Asia Tenggara, Jepang, Korea Selatan, hingga Amerika. Strategi ini mengikuti tren industri musik Asia yang semakin mengandalkan kolaborasi lintas negara dan pendekatan multiplatform.
Pengamat musik pop Asia, Ryo Takeda, menilai langkah ini strategis. “Indonesia punya pasar domestik besar, tapi jarang yang dikemas dengan visi global sejak awal. PAPION bisa jadi contoh,” ujarnya.
Bukan Peniru
Kehadiran PAPION dinilai sebagai arah baru musik pop Indonesia yang selama ini banyak terpengaruh K-pop dan J-pop. “Kami tidak ingin menjadi versi lain dari grup luar. Kami ingin menjadi wajah baru pop Asia dari Indonesia,” kata Naufa.
Single ketiga mereka dijadwalkan rilis dalam waktu dekat. Manajemen menyebut lagu ini akan menjadi “titik balik” yang memperkuat identitas musik mereka: adaptif, eksperimental, dan lepas dari batas genre.
Jika visi ini terwujud, PAPION berpeluang menambah daftar ekspor budaya populer Indonesia, sejajar dengan tren globalisasi musik yang melahirkan fenomena seperti BLACKPINK dari Korea Selatan dan BABYMONSTER dari generasi terbaru pop Asia. ***






