SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Hampir empat puluh tahun setelah penampilan perdananya, Red Sonja kembali hidup di layar lebar. Film fantasi laga Red Sonja dijadwalkan tayang pada 13 Agustus 2025 di Amerika Serikat. Sosok pendekar wanita berjuluk “She-Devil with a Sword” kini diperankan aktris asal Italia, Matilda Lutz.
Kisah Perlawanan dari Perbudakan
Disutradarai M.J. Bassett dengan naskah Tasha Huo, film ini menempatkan Sonja dalam situasi getir: seorang pendekar yang diperbudak oleh tiran bernama Dragan. Untuk membebaskan rakyatnya, ia harus menghimpun sekelompok pejuang dan menantang pasukan sang penguasa. Kisahnya sarat duel pedang, pertarungan gladiator, hingga intrik kekuasaan.
Deretan Nama di Balik Film
Selain Lutz, sejumlah aktor turut menghidupkan dunia fantasi ini: Robert Sheehan sebagai Dragan, Wallis Day, Michael Bisping, Martyn Ford, Eliza Matengu, Rhona Mitra, hingga Veronica Ferres. Diproduksi oleh Millennium Films, film ini menjadi salah satu proyek adaptasi fantasi paling ambisius rumah produksi tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Dari Komik hingga Film Klasik
Karakter Red Sonja lahir dari imajinasi Robert E. Howard yang kemudian diadaptasi Roy Thomas ke komik Marvel pada 1970-an. Popularitasnya pernah diangkat ke layar lebar pada 1985 dengan Brigitte Nielsen sebagai Sonja dan Arnold Schwarzenegger sebagai Kalidor. Versi baru ini membawa tantangan: bagaimana menghidupkan kembali mitos lama dengan bahasa sinema modern tanpa terjebak pada sekadar nostalgia.
Jejak Trailer dan Ekspektasi Penonton
Trailer resmi yang dirilis awal tahun ini memperlihatkan dunia fantasi gelap dengan adegan laga yang padat. Reaksi penonton bercampur: sebagian antusias dengan aksi Matilda Lutz yang garang, sebagian lagi khawatir film ini tak lebih dari tontonan aksi generik dengan efek komputer seadanya.
Antara Ekspektasi dan Kekhawatiran
Kritik mulai bermunculan bahkan sebelum film tayang. Desain kostum Sonja, yang masih menonjolkan sensualitas dibanding fungsi perlindungan, dianggap berulang pada kesalahan klasik: menampilkan pahlawan perempuan lebih sebagai tontonan visual ketimbang karakter utuh. Sementara itu, rekam jejak sutradara Bassett, yang sebelumnya menangani Rogue (2020), menimbulkan pertanyaan apakah ia mampu menjaga ritme epik fantasi besar dengan anggaran terbatas.
Ujian Relevansi di Era Film Fantasi
Red Sonja versi 2025 pada akhirnya akan diuji di hadapan publik: apakah ia sekadar mengulang formula usang atau berhasil menempatkan Sonja sebagai ikon baru dalam deretan pahlawan perempuan di layar lebar. Bagi penggemar film laga-fantasi, tanggal rilis 13 Agustus mungkin menjadi momen pembuktian apakah legenda lama ini masih sanggup bicara dalam lanskap sinema modern.
Tanggapan atas Kritik
Sejumlah pihak dari tim produksi mencoba meredam kritik yang lebih dulu muncul. Sutradara M.J. Bassett menyebut Red Sonja bukan sekadar pamer laga, melainkan upaya menghidupkan kembali ikon perempuan tangguh dalam dunia fantasi klasik. “Kami ingin menunjukkan Sonja sebagai pejuang yang punya luka, ambisi, dan suara sendiri,” ujarnya dalam sebuah wawancara. Sementara Matilda Lutz menegaskan, kostum dan tampilan Sonja kali ini diarahkan bukan hanya untuk sensualitas, melainkan simbol keberanian dan kebebasan. Namun, pernyataan ini masih akan diuji oleh penonton ketika film resmi tayang pada 13 Agustus 2025. ***






