Lintrik: Horor Psikologis dengan Sentuhan Mistis Banyuwangi Siap Tayang September 2025

SINARPAGINEWS. COM, JAKARTA – Film Lintrik: Ilmu Pemikat karya Prama Gatra Film bersama Rumah Semut Film akan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 11 September 2025. Mengusung genre horor psikologis, film ini mencoba menawarkan warna baru di tengah dominasi horor hantu-hantuan yang marak di layar lebar nasional.

Sutradara Irham Acho Bahtiar menegaskan, Lintrik bukan film horor konvensional. “Kami lebih menekankan sisi thriller dan misteri. Ada darah, ada ketegangan, tapi bukan sekadar jump scare. Unsur mistis yang muncul hanya sebagai bagian dari cerita Lintrik, bukan untuk menakut-nakuti,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (23/8).

Inspirasi dari Banyuwangi

Film ini diadaptasi dari film pendek Lintrik – Janakim Series karya komunitas film Banyuwangi yang tayang di YouTube pada 2022. Produser Asye Siregar melihat potensi besar dari karya tersebut dan mengajak para pembuat aslinya terlibat langsung, baik dalam produksi maupun sebagai konsultan budaya.

Dalam budaya Jawa, Lintrik dikenal sebagai ilmu pengasihan atau pelet kuno yang hanya bisa dijalankan oleh perempuan dengan ritual khusus. Tokoh utama film, Sari, berusaha merebut cinta pertamanya menggunakan ilmu ini, namun terjebak dalam konspirasi besar yang mengungkap sisi gelap kekuasaan dan kepercayaan.

Syuting Penuh Tantangan

Proses produksi berlangsung hampir sebulan di Jakarta dan Banyuwangi. Salah satu lokasi utama adalah Hutan De Djawatan yang sebelumnya jarang dipakai syuting. Di tempat ini, kru mengalami gangguan berulang berupa hujan tiba-tiba setiap kali kamera siap merekam.

“Dari pagi sampai sore, lebih dari 20 sampai 30 kali hujan turun begitu kami bersiap take. Tiga hari berturut-turut kejadian itu terjadi,” ujar Irham. Kondisi tersebut membuat jadwal mundur dan sebagian naskah terpaksa diubah, termasuk pengambilan adegan aksi kamera yang lebih terbatas.

Irham menuturkan, hujan baru berhenti setelah tim melakukan ritual sederhana yang disarankan warga sekitar. “Setelah itu, baru benar-benar tidak turun hujan lagi. Saya pribadi bukan orang yang percaya hal-hal gaib, tapi apa yang kami alami memang nyata,” katanya.

Sentuhan Lokal dan Pesan Sosial

Film ini melibatkan seniman Banyuwangi, di antaranya maestro tari Gandrung Mak Temu Misti dan seniman Mas Yon DD, serta menampilkan bahasa Osing. Pemerintah Daerah Banyuwangi turut mendukung syuting di sejumlah lokasi ikonik, termasuk Festival Banyuwangi.

Jajaran aktor nasional yang terlibat antara lain Donny Damara, Yatti Surachman, Meisya Amira, Karina Icha, Akbar Nasdar, Fannita Posumah, dan Teguh Ryder.

Produser Asye menambahkan, film ini tidak hanya soal horor. “Kami ingin penonton sadar bahwa praktik seperti ini masih dipercaya sebagian orang. Ada juga pesan tentang kewaspadaan terhadap orang yang menggunakan kedok agama demi kepentingan pribadi,” ujarnya. *

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *