SINARPAGINEWS.COM, BANDUNG – Maudy Ayunda kerap membagikan book list atau daftar buku yang telah dibaca. Kali ini, ia membahas tentang salah satu buku yang dibaca yaitu “Filosofi Teras”.
Mengulas sedikit tentang kehidupan, tentu tidak pernah lepas dari berbagai permasalahan. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana cara agar setiap persoalan yang datang tidak membuat kita mudah stres.
Buku “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring hadir untuk menjawab hal tersebut. Dalam buku ini terdapat pembahasan filsafat Stoa atau Stoisisme (filsafat klasik dari Yunani kuno) yang masih sangat relevan hingga saat ini. Melalui ajaran-ajarannya, Stoisisme mengajarkan cara membentuk mental yang tangguh dalam menghadapi tantangan hidup.
Salah satu hal menarik dari buku ini menurut Maudy Ayunda adalah cara penyajiannya yang ringan, praktis, dan mudah dipahami, sehingga pembaca tidak merasa terbebani dengan topik filsafat yang biasanya dianggap rumit. Henry Manampiring menyampaikan gagasan dengan gaya yang hangat, penuh humor, dan dilengkapi contoh kesehariannya.
Maudy Ayunda kemudian membagikan beberapa insight penting tentang buku “Filosofi Teras”.
Insight pertama yang diangkat adalah mengenai masalah positive thinking. Selama ini, kita sering mendengar anjuran untuk selalu berpikir positif. Namun, berdasarkan penelitian yang dikutip dari “The New York Times”, berpikir positif secara berlebihan justru dapat menipu pikiran, membuat kita merasa seolah telah mencapai tujuan padahal belum. Akibatnya, usaha untuk mencapai tujuan menjadi melemah.
Perlu diketahui bahwa, Filosofi Stoa tidak menolak berpikir positif, tetapi menekankan keseimbangan antara harapan dan realitas melalui metode mental contrasting, yaitu membayangkan hasil yang diinginkan sekaligus mengantisipasi hambatan yang mungkin terjadi.
Insight kedua membahas tentang konsep “Dikotomi Kendali”, yaitu pemisahan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak bisa. Dalam perkembangannya, konsep ini diperluas menjadi “Trikotomi Kendali”, contohnya meliputi hal-hal yang sepenuhnya dapat dikendalikan (seperti opini dan tindakan), hal-hal yang tidak bisa dikendalikan sama sekali (seperti cuaca atau pendapat orang lain), serta hal-hal yang bisa dikendalikan sebagian (seperti hasil ujian atau karier). Pahami batasan kendali tersebut, kita diajak untuk memusatkan energi pada hal-hal yang memang berada dalam jangkauan kita dan menerima sisanya dengan lapang dada.
Insight ketiga menyoroti pentingnya hidup berdampingan dengan emosi negatif. Emosi seperti marah, sedih, dan kecewa bukanlah musuh yang harus dimusnahkan, melainkan sinyal yang perlu dikendalikan. Henry Manampiring memperkenalkan teknik STAR (Stop, Think, Assess, Respond) untuk membantu kita merespons emosi dengan cara yang lebih rasional. Stop (ketika mendeteksi adanya emosi negatif, kita harus berhenti sejenak). Think dan Assess (selanjutnya mencoba mulai berpikir jernih dan menilai situasi. Pikirkan apakah perasaan ini benar dan apakah ada solusinya). Respond (tentukan respon apa yang ingin kita berikan).
Dalam buku ini, pembaca juga diajak untuk tidak menyesali masa lalu, karena semua yang telah terjadi berada di luar kendali dan hanya bisa dijadikan pembelajaran.
Secara keseluruhan, “Filosofi Teras” bukan “obat ajaib” yang bisa menghapus seluruh masalah hidup, melainkan panduan untuk membangun ketenangan dan keteguhan mental di tengah situasi apa pun. Adanya pemahaman dan penerapan nilai-nilai Stoisisme, kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih bijak, damai, dan berdaya. ***
Penulis: Zahra
Sumber: kanal YouTube Maudy Ayunda






