SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Starvision bersiap membuka kalender perfilman 2026 dengan merilis sekuel horor Kafir: Gerbang Sukma yang dijadwalkan tayang di bioskop mulai 29 Januari 2026. Film ini digadang-gadang menjadi salah satu horor paling gelap dan brutal yang pernah diproduksi Starvision karena tidak hanya mengandalkan efek kejut, tetapi juga mengolah teror psikologis, ritual mistik, serta trauma keluarga lintas generasi.
Produser Chand Parwez Servia mengatakan film ini dirancang sebagai refleksi sisi paling kelam manusia. Ia menilai horor dalam Kafir: Gerbang Sukma bukan sekadar sensasi jump scare, melainkan potret tentang bagaimana keserakahan, dendam, dan kedengkian dapat menghancurkan sebuah keluarga bahkan melampaui satu generasi. Oleh karena itu, sekuel ini diposisikan sebagai pembuka perjalanan Starvision di bioskop pada 2026.
Sekuel ini melanjutkan kisah Sri yang berusaha menjalani hidup normal setelah tragedi pada film pertama. Namun, masa lalu kembali menghantui ketika keluarganya mengunjungi rumah orang tua Sri, yang justru menjadi episentrum teror baru. Alur cerita ini kemudian dikembangkan dengan konflik keluarga yang lebih kompleks serta tekanan psikologis yang semakin intens.
Penulis skenario Upi mengatakan cerita sekuel tetap bertumpu pada motif klasik keserakahan manusia. Akan tetapi, pendekatan yang digunakan lebih psikologis dan mendalam. Ia menegaskan bahwa ketika manusia bersekutu dengan iblis, ia tidak akan pernah dibiarkan hidup lurus karena godaan dan tipu daya akan datang dari berbagai arah. Selain itu, karakter Sri juga dikembangkan lebih rapuh secara batin akibat trauma, rasa bersalah, dan ketakutan yang terus membayangi.
Sementara itu, sutradara Azhar Kinoi Lubis menyebut film ini dirancang lebih brutal sekaligus sinematik dibanding film pertamanya. Menurutnya, atmosfer horor tetap dipertahankan, tetapi storytelling dibuat lebih emosional, eksplorasi gore diperluas, dan misteri diperkuat. Dengan demikian, penonton tidak hanya menyaksikan keluarga Sri, tetapi juga diajak masuk ke dalam dinamika emosional keluarga tersebut. Ia juga mengakui ekspektasi tinggi terhadap sekuel menjadi tantangan terbesar dalam proses kreatif.
Tema trauma keluarga dan konsekuensi dosa masa lalu menjadi benang merah cerita. Chand Parwez menambahkan bahwa struktur keluarga Sri diperluas dengan kehadiran karakter kakek-nenek serta anggota keluarga baru, sehingga konflik emosional antaranggota keluarga dapat digali lebih dalam. Dengan kata lain, film ini tidak hanya menghadirkan horor supranatural, tetapi juga drama keluarga yang intens.
Putri Ayudya, yang kembali memerankan Sri, mengatakan karakter tersebut kini memiliki spektrum emosi yang lebih luas. Ia menyebut Sri mencoba bertanggung jawab atas konsekuensi masa lalunya dan melindungi keluarganya, tetapi perlindungan itu justru berubah menjadi perangkap. Di sisi lain, Indah Permatasari mengaku peran Hanum menjadi salah satu yang paling menantang dalam kariernya karena kompleksitas emosi marah dan dendam yang harus dimainkan secara terukur.
Asha Assuncao, pemeran Rani, mengatakan karakternya menjadi pintu masuk emosional bagi penonton karena Rani tidak mengetahui masa lalu kelam keluarga Sri. Sementara itu, Nadya Arina yang kembali memerankan Dina delapan tahun setelah film pertama dirilis pada 2018 menyebut kehadirannya membawa nuansa nostalgia. Ia juga mengatakan Kafir memiliki makna personal karena menjadi salah satu film awal yang membawanya masuk ke industri perfilman.
Rangga Azof turut menyebut Kafir sebagai batu loncatan penting dalam perjalanan kariernya. Ia mengaku menunda sejumlah proyek lain demi terlibat dalam sekuel ini, meskipun aktivitasnya di dunia sinetron tetap berjalan. Menurutnya, medium berkarya tidak menjadi batasan karena film, sinetron, dan teater sama-sama memberi ruang belajar dan eksplorasi.
Film ini dibintangi Putri Ayudya, Rangga Azof, Nadya Arina, Indah Permatasari, Asha Assuncao, Arswendy Bening Swara, Muthia Datau, Sujiwo Tejo, Nova Eliza, Teddy Syach, Fuad Idris, hingga Totos Rasiti. Produksi didukung Aghi Narottama sebagai penata musik, Iqbal Marjono sebagai penata produksi, serta Muhammad Firdaus sebagai sinematografer.
Film Kafir (2018) sebelumnya meraih empat nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia, termasuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik dan Penata Musik Terbaik. Oleh sebab itu, sekuel ini diharapkan dapat melanjutkan reputasi tersebut sekaligus memperluas eksplorasi horor psikologis, drama keluarga, dan visual ekstrem dalam perfilman Indonesia.






