SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — RedDoorz mempercepat ekspansi bisnis di Indonesia dengan menargetkan penambahan 100–150 properti baru hingga 2027. Langkah ini ditempuh seiring penguatan model hotel yang dikelola langsung (managed hotel) berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), guna meningkatkan okupansi, efisiensi operasional, serta pertumbuhan pendapatan di tengah tingginya permintaan perjalanan domestik.
Founder dan CEO RedDoorz Amit Saberwal menegaskan Indonesia tetap menjadi pasar paling strategis bagi perusahaan. “Indonesia tetap menjadi salah satu pasar paling strategis dan potensial bagi RedDoorz, didorong kuatnya permintaan perjalanan domestik serta meningkatnya kebutuhan akan akomodasi yang andal dan terjangkau,” ujar Amit Saberwal di Jakarta, Kamis (26/2).
Saat ini RedDoorz mengelola sekitar 4.300 properti di Indonesia dan Filipina, dengan jaringan tersebar di lebih dari 300 kota. Hingga 2026, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi 4.700 properti, dengan laju pertumbuhan bisnis dipatok di atas 20–25 persen per tahun.
Ekspansi Properti dan Penguatan Model Managed Hotel
Seiring dengan ekspansi tersebut, perusahaan menitikberatkan pada penguatan hotel yang dikelola langsung oleh tim profesional internal. Hingga akhir 2025, sekitar 100 hotel telah masuk dalam skema managed, dan jumlahnya akan terus bertambah dalam dua tahun ke depan.
Berbeda dari skema kemitraan sebelumnya yang lebih berfokus pada distribusi kanal penjualan dan pemanfaatan online travel agent (OTA), model managed hotel memungkinkan RedDoorz melakukan pengelolaan end-to-end. Mulai dari strategi harga kamar, pemasaran digital, pengawasan standar layanan, hingga optimalisasi operasional harian, seluruhnya berada dalam kendali perusahaan.
Selain itu, strategi multi-brand turut diperkuat melalui pengembangan SANS yang menyasar segmen hotel ekonomis berkonsep lifestyle modern dan trendi, serta URBANVIEW yang membidik wisatawan urban dengan preferensi desain estetik dan harga terjangkau. Dengan demikian, penetrasi pasar tidak hanya terpusat di kota besar, melainkan juga merambah kota tier-2 dan tier-3 yang pertumbuhan pariwisatanya kian agresif.
Integrasi AI dan Strategi Intelligent Pricing
Di sisi lain, ekspansi skala besar tersebut ditopang oleh integrasi teknologi AI melalui sistem internal bernama RedPilot. Platform ini dirancang sebagai “copilot” digital bagi manajer hotel untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data secara real-time.
Melalui RedPilot, perusahaan menerapkan intelligent pricing strategy, analisis permintaan pasar, hingga proyeksi okupansi berbasis algoritma. Dengan kata lain, penyesuaian tarif kamar dapat dilakukan secara dinamis sesuai tren pemesanan, musim liburan, serta perilaku konsumen. Pendekatan ini dinilai krusial dalam menjaga keseimbangan antara tingkat hunian dan profitabilitas, khususnya di tengah persaingan industri hotel yang semakin ketat.
Manajemen menyebutkan integrasi AI tersebut telah berkontribusi pada peningkatan revenue mitra sekaligus menjaga konsistensi layanan di lebih dari 60 ribu kamar dalam ekosistem RedDoorz.
Pemilik RedDoorz Syariah Plus @ Wisma Bougenville Karawaci, Effi Setiawati, menilai dukungan teknologi menjadi solusi atas kompleksitas operasional perhotelan modern. “Sebagai pemilik properti secara individual, tidak mudah bagi kami untuk mengelola operasional dan teknologi pada level seperti ini secara mandiri. Pendekatan RedDoorz yang berbasis teknologi memberi kami kepercayaan bahwa properti dapat dikelola secara profesional dan efisien,” ujar Effi Setiawati.
Bidik Lonjakan Okupansi dan Momentum Lebaran 2026
Lebih lanjut, menghadapi musim mudik dan libur Lebaran 2026, RedDoorz memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Momentum ini dinilai sebagai salah satu puncak pendapatan tahunan selain periode akhir tahun.
Oleh karena itu, perusahaan telah melakukan persiapan sejak awal tahun, termasuk penyegaran properti, audit standar layanan, serta penyesuaian harga dinamis berbasis AI. Lonjakan okupansi diprediksi terjadi di kota-kota penyangga dan destinasi wisata seperti Malang, Batu, serta wilayah sekitar Bali, sementara kota bisnis seperti Jakarta dan Surabaya cenderung lebih stabil selama periode mudik.
Berdasarkan laporan Mordor Intelligence, hotel independen masih menguasai 62,85 persen pangsa pasar perhotelan Indonesia pada 2025. Namun demikian, hotel jaringan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 11,14 persen hingga 2031. Tren tersebut memperlihatkan peluang konsolidasi dan profesionalisasi pengelolaan hotel, terutama di segmen menengah yang menjadi tulang punggung industri.
Dengan kombinasi ekspansi properti, penguatan model managed hotel, serta integrasi AI dalam strategi harga dan operasional, RedDoorz optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan agresif di pasar hotel Indonesia. Terlebih, karakter wisatawan domestik khususnya Gen Z yang semakin digital-first, sensitif terhadap harga, namun tetap mengutamakan pengalaman, menjadi peluang besar bagi model bisnis perhotelan berbasis teknologi.**






