SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Aktor senior Clift Sangra mengungkapkan kerinduan mendalam kepada mendiang istrinya, Suzzanna, melalui sebuah puisi yang ditulisnya. Dalam bait-bait tersebut, Clift tidak hanya mengenang sosok legenda film horor, tetapi juga perempuan yang ia cintai dalam kehidupan sehari-hari.
“Aku justru takut pada satu hal: takut lupa suara tawamu yang paling sederhana,” tulis Clift dalam puisinya.
Pernyataan itu memperlihatkan sisi personal yang jarang tersorot dari sosok Suzzanna, yang selama ini dikenal publik lewat peran-peran ikoniknya di layar lebar. Bagi Clift, ingatan tentang tawa sederhana justru menjadi hal paling berharga yang ingin ia pertahankan.
Momentum puisi ini beriringan dengan keterlibatan Clift dalam film terbaru Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa. Film produksi Soraya Intercine Films ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali karakter Suzzanna untuk generasi baru penonton.
Dalam film tersebut, Clift memerankan Bisman, tokoh antagonis yang berhadapan langsung dengan karakter Suzzanna yang diperankan Luna Maya. Peran ini menjadi kontras dengan masa lalu, ketika Clift dan Suzzanna kerap tampil sebagai pasangan di sejumlah film klasik.
Clift dan Suzzanna sebelumnya dikenal sebagai duet kuat dalam film-film seperti Sangkuriang (1982), Nyi Blorong (1982), dan Ajian Ratu Laut Kidul (1991). Kehadiran Clift dalam proyek terbaru ini dinilai sebagai bentuk kesinambungan antara warisan lama dan interpretasi baru dalam industri film Indonesia.
Film yang juga dibintangi Reza Rahadian ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dan diproduseri Sunil Soraya. Selain itu, produksi ini turut melibatkan Legacy Pictures dan Navvaros Entertainment.
Secara naratif, film ini mengangkat kisah tentang dendam dan cinta. Karakter Suzzanna diceritakan menuntut balas atas kematian ayahnya, namun di tengah perjalanan justru dihadapkan pada pilihan antara membalas dendam atau mempertahankan cinta.
Clift mengatakan, keterlibatannya dalam film ini bukan sekadar peran akting, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan karya Suzzanna. Ia mengajak publik untuk kembali mengenang sosok tersebut melalui film yang tayang sejak 18 Maret 2026 di bioskop Indonesia.
Di tengah arus film modern, kehadiran kembali karakter Suzzanna menunjukkan bahwa memori kolektif tentang horor klasik Indonesia masih memiliki tempat. Bagi Clift, warisan itu bukan hanya milik industri, melainkan juga bagian dari kisah cinta yang belum selesai.






