SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Aktor Indonesia yang sukses berkiprah di Hollywood, Joe Taslim, menilai banyak karakter dalam film aksi modern digambarkan terlalu sempurna sehingga membuat perjalanan karakternya mudah ditebak. Pandangan tersebut ia sampaikan saat bincang santai dalam jumpa pers film The Furious di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Jumat, 5 Juni 2026.
Melalui film aksi terbarunya, Joe memerankan Navin, seorang jurnalis investigasi yang terlibat dalam pengungkapan kasus perdagangan manusia di Asia Tenggara. Berbeda dengan sejumlah karakter yang pernah ia perankan sebelumnya, Navin hadir sebagai sosok yang lebih membumi, rentan, dan harus berjuang keras untuk bertahan hidup.
“Selama ini saya sering memainkan karakter yang sangat kuat. Mau 100 orang datang pun dia bisa menghadapi semuanya. Karakter seperti itu menyenangkan, tetapi di The Furious saya menemukan sesuatu yang berbeda,” kata Joe.
Bintang The Raid, Mortal Kombat, dan Fast & Furious 6 itu mengaku langsung tertarik ketika membaca naskah film garapan sutradara Kenji Tanigaki tersebut. Menurutnya, Navin menawarkan pendekatan yang lebih realistis dalam genre film action.
“Karakter ini bukan seorang master kungfu, bukan mantan pasukan khusus, dan bukan orang yang punya kemampuan luar biasa. Dia seorang wartawan yang berusaha menjalankan misinya sambil bertahan hidup. Itu yang membuat saya jatuh cinta dengan karakter ini,” ujarnya.
Joe Taslim Sebut Karakter Navin Lebih Manusiawi
Dalam film The Furious, Navin digambarkan sebagai jurnalis investigasi yang menyelidiki jaringan perdagangan manusia dan eksploitasi anak di salah satu wilayah Asia Tenggara. Joe mengatakan karakter tersebut memiliki sisi emosional yang kuat karena didorong oleh tujuan kemanusiaan.
Menurut dia, Kenji Tanigaki sengaja menghindari formula karakter aksi yang terlalu sempurna. Sutradara asal Jepang itu ingin menghadirkan tokoh yang memiliki keterbatasan layaknya manusia biasa.
“Kenji merasa seorang wartawan tetaplah wartawan. Dia tidak mungkin tiba-tiba menjadi ahli kungfu atau mantan pasukan elit. Karakter ini punya kemampuan membela diri, tetapi tetap manusia biasa yang bisa terluka dan bisa kalah,” kata Joe.
Karena itu, setiap adegan pertarungan dalam film tersebut dirancang memiliki konsekuensi bagi karakter utama. Joe menilai pendekatan tersebut membuat emosi penonton lebih mudah terhubung dengan perjalanan Navin.
“Kita melihat dia jatuh, terluka, kesakitan, lalu bangkit lagi. Dia seorang survivor. Buat saya itu jauh lebih menarik dibanding karakter yang dari awal sudah terlihat tidak mungkin kalah,” ujarnya.
Riset Jadi Jurnalis Investigasi untuk The Furious
Demi mendalami perannya sebagai Navin, Joe melakukan berbagai riset, termasuk menonton dokumenter tentang jurnalis investigasi dan kasus perdagangan manusia yang terjadi di berbagai negara.
Ia ingin memahami bagaimana seorang jurnalis bekerja ketika mengungkap jaringan kejahatan yang berisiko tinggi terhadap keselamatan dirinya.
“Saya banyak menonton dokumenter dan mempelajari bagaimana para jurnalis investigasi bekerja. Mereka mempertaruhkan banyak hal demi mengungkap kebenaran. Itu yang saya coba bawa ke karakter Navin,” kata Joe.
Menurutnya, aspek emosional dalam karakter tersebut menjadi tantangan tersendiri karena berbeda dengan sebagian besar peran action yang pernah ia mainkan.
“Ini bukan hanya soal bertarung. Ada perjuangan seorang suami, ada misi menyelamatkan orang lain, ada rasa takut dan rasa kehilangan. Jadi secara emosional karakter ini jauh lebih kompleks,” ujarnya.
Kenji Tanigaki Tampilkan Kemampuan Judo Joe Taslim
Selain menghadirkan karakter yang lebih realistis, The Furious juga menjadi film pertama yang mengeksplorasi kemampuan judo Joe Taslim secara lebih mendalam.
Kenji Tanigaki memilih judo sebagai fondasi utama gaya bertarung Navin. Keputusan tersebut diambil karena Joe memang memiliki latar belakang sebagai atlet judo sebelum terjun ke dunia akting.
“Selama hampir 20 tahun bermain film action, saya sering menggunakan berbagai disiplin bela diri yang berbeda. Kali ini Kenji bilang sudah saatnya memperkenalkan judo yang memang menjadi dasar saya sejak dulu,” kata Joe.
Ia mengakui judo bukan jenis bela diri yang mudah ditampilkan dalam film karena lebih menekankan kuncian, bantingan, dan pertarungan jarak dekat. Namun, tim koreografi berhasil merancang adegan laga yang tetap menarik dan dinamis.
“Judo itu bukan bela diri yang terlihat indah seperti kungfu. Tetapi dengan desain koreografi yang dibuat Kenji dan tim, hasilnya menjadi sesuatu yang segar dan berbeda,” ujarnya.
Reuni Joe Taslim dan Yayan Ruhian Setelah 16 Tahun
Film The Furious juga menjadi ajang reuni Joe Taslim dan Yayan Ruhian setelah keduanya tampil bersama dalam film fenomenal The Raid yang syuting pada 2010 dan dirilis pada 2011.
Joe mengaku merindukan kesempatan untuk kembali beradu akting dengan Yayan dalam sebuah film aksi berskala internasional.
“Kita syuting The Raid tahun 2010. Berarti sudah sekitar 16 tahun yang lalu. Rasanya luar biasa bisa dipertemukan lagi dalam proyek seperti ini,” katanya.
Sebelumnya, Joe dan Yayan sempat berada dalam satu proyek melalui film Hit & Run pada 2019. Namun, porsi pertarungan keduanya tidak sebanyak yang akan ditampilkan dalam The Furious.
Joe optimistis film tersebut dapat menghadirkan warna baru bagi genre action global. Menurutnya, Kenji Tanigaki dan produser Bill Kong memiliki ambisi besar untuk membawa film aksi ke level yang lebih tinggi melalui koreografi yang kompleks dan pendekatan karakter yang lebih kuat.
“The Furious bukan hanya menjual aksi. Film ini juga menawarkan emosi, karakter yang kuat, dan perjuangan yang bisa dirasakan penonton. Itu yang membuat film ini spesial,” pungkas Joe.






