Doktor Muda Trisakti Ungkap Kunci Transformasi Digital yang Berkelanjutan bagi Industri Kreatif Indonesia

Eryc Raih Gelar Doktor, Risetnya Tawarkan Formula Baru Transformasi Digital Bisnis Kreatif/ foto: Chairul

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Transformasi digital yang marak dilakukan pelaku ekonomi kreatif Indonesia ternyata belum sepenuhnya menghasilkan keunggulan bisnis yang berkelanjutan. Banyak perusahaan dan pelaku usaha telah memanfaatkan teknologi digital, tetapi masih sebatas pada penggunaan alat dan platform, belum menyentuh perubahan strategi bisnis secara menyeluruh.

Temuan tersebut diungkapkan oleh Dr. Eryc, S.M., M.M. dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Ekonomi Konsentrasi Manajemen Strategik Universitas Trisakti. Melalui disertasinya yang berjudul “Peran Digital Maturity dalam Meningkatkan Sustainable Innovation Performance melalui Digital Business Model Innovations untuk Pelaku Ekonomi Kreatif”, Eryc meneliti faktor-faktor yang mampu mendorong inovasi berkelanjutan di sektor ekonomi kreatif Indonesia.

Digitalisasi Tak Cukup Hanya Mengandalkan Teknologi

Penelitian yang melibatkan 320 pelaku ekonomi kreatif di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar itu menemukan bahwa penggunaan teknologi digital semata tidak otomatis meningkatkan daya saing perusahaan.

Menurut Eryc, banyak pelaku usaha telah menggunakan media sosial, e-commerce, hingga berbagai platform digital untuk menjalankan bisnis. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut sering kali belum diintegrasikan ke dalam strategi bisnis yang mampu menciptakan nilai baru bagi pelanggan maupun sumber pendapatan baru bagi perusahaan.

“Transformasi digital bukan sekadar memiliki aplikasi atau akun media sosial. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi mengubah cara organisasi bekerja, menciptakan nilai, dan menghasilkan inovasi yang berkelanjutan,” kata Eryc usai sidang promosi doktoralnya.

Ia menjelaskan bahwa tingkat kematangan digital atau digital maturity menjadi faktor penting dalam mendorong keberhasilan inovasi. Organisasi yang memiliki kesiapan budaya, kepemimpinan, dan strategi digital terbukti lebih mampu beradaptasi dengan perubahan pasar dibandingkan organisasi yang hanya fokus pada penggunaan teknologi.

Sudah Diimplementasikan di Ciputra Group

Menariknya, hasil penelitian tersebut tidak berhenti sebagai kajian akademik. Eryc mengungkapkan sejumlah konsep yang dikembangkan dalam disertasinya telah diterapkan di lingkungan korporasi tempatnya bekerja, yakni Ciputra Group.

Menurut dia, gagasan mengenai transformasi digital telah mulai didiskusikan dengan jajaran direksi sejak beberapa tahun lalu dan mendapat respons positif. Saat ini, sejumlah pendekatan yang lahir dari riset tersebut telah menjadi bagian dari strategi organisasi dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

“Puji Tuhan, gagasan yang saya susun dalam penelitian ini diterima dan mulai diadopsi di lingkungan korporasi. Perusahaan besar membutuhkan kemampuan untuk bergerak cepat, tetap relevan, dan mampu merespons perubahan perilaku pasar yang berlangsung sangat dinamis,” ujarnya.

Selain berkarier di dunia korporasi, Eryc juga aktif memberikan seminar, pelatihan, dan konsultasi di bidang manajemen organisasi, transformasi digital, serta digital marketing. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang sederhana dan aplikatif agar teori manajemen dapat diterapkan secara nyata oleh dunia usaha.

Lulus Doktor di Usia 30-an, Ingin Hasil Riset Jadi Kebijakan

Di balik pencapaian akademiknya, Eryc memiliki perjalanan yang tidak biasa. Pria kelahiran Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, itu berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu tiga tahun dan meraih gelar doktor pada usia 30-an.

Ia mengaku keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarganya. Sang ayah tidak sempat mengenyam pendidikan formal, sementara ibunya hanya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat sekolah dasar.

“Keluarga saya selalu menanamkan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan. Meski berasal dari daerah dan memiliki keterbatasan, saya percaya setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang,” katanya.

Eryc berharap hasil penelitiannya tidak hanya bermanfaat bagi kalangan akademisi dan dunia usaha, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi kreatif berbasis transformasi digital.

Menurut dia, program digitalisasi yang selama ini berjalan perlu diperluas, tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada penguatan kepemimpinan digital, budaya inovasi, dan kesiapan organisasi.

“Yang terpenting adalah memiliki tekad yang kuat. Tidak ada yang tidak mungkin. Kita mungkin terlahir biasa, tetapi selalu punya pilihan untuk menjadi luar biasa,” pungkasnya.

Sidang terbuka tersebut dipimpin oleh tim promotor dan penguji yang dipimpin Promotor Prof. Dr. Yolanda Masnita Siagian, MM., CIRR., CMA., CPM., serta Ko-Promotor Dr. Leila Yusran, MM., CMA., CPM. Penelitian Eryc diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ekonomi kreatif Indonesia di tengah percepatan transformasi digital global. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *