Anak Cerebral Palsy Butuh Bantuan Nyata, Orang Tua Keluhkan Mahalnya Alat Bantu dan Terapi

SINARPAGINEWS.COM, TANGERANG SELATAN – Anak penyandang cerebral palsy (CP) masih menghadapi berbagai tantangan untuk mendapatkan terapi dan alat bantu yang sesuai kebutuhan. Di tengah perjuangan orang tua mendampingi tumbuh kembang anak, dukungan pemerintah dan kepedulian masyarakat dinilai perlu diperkuat agar mereka bisa memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik.

Persoalan tersebut mengemuka dalam peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 bertema Unique and United di Atrium Mall Teras Kota, BSD, Tangerang Selatan, Minggu (25/10/2026). Kegiatan ini diisi dengan talkshow kesehatan, penampilan orang tua, peragaan busana anak, serta penyaluran bantuan bagi anak penyandang cerebral palsy.

Pendiri Rumah Cerebral Palsy, Iis Risnawati Sulaiman, mengatakan peringatan ini bukan sekadar acara tahunan. Kegiatan tersebut menjadi upaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus memperjuangkan hak anak penyandang CP agar mendapat penerimaan dan dukungan yang layak.

Menurut Iis, Rumah Cerebral Palsy dibentuk pada 2012 bersama sejumlah orang tua yang memiliki pengalaman serupa dalam mendampingi anak. Pengalamannya membesarkan putrinya, Rana Nashisti Dhiyata, yang didiagnosis cerebral palsy, turut mendorongnya memperjuangkan kebutuhan keluarga dengan kondisi serupa.

“Yang kami harapkan bukan hanya acara seremonial. Kami ingin ada dukungan nyata agar anak-anak cerebral palsy bisa mendapatkan kebutuhan mereka dan diterima di lingkungan masyarakat,” ujar Iis.

Alat Bantu Anak Cerebral Palsy Tidak Murah

Iis menjelaskan, kebutuhan setiap anak penyandang cerebral palsy berbeda-beda. Sebagian membutuhkan kursi roda khusus, sepatu ortopedi, penyangga tangan, hingga peralatan pendukung pernapasan seperti oksigen dan nebulizer.

Alat bantu tersebut tidak bisa selalu menggunakan produk standar karena harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan kebutuhan masing-masing anak. Akibatnya, biaya yang harus ditanggung keluarga dapat menjadi beban tersendiri, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.

Iis menyebut sekitar 70 persen anggota komunitas yang didampinginya berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Situasi tersebut membuat pemenuhan kebutuhan anak, termasuk alat bantu dan pendampingan, membutuhkan perhatian lebih luas.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah anak menerima bantuan berupa kursi roda roda tiga, sepatu ortopedi, alat penyangga tangan, serta perangkat pendukung lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat membantu aktivitas anak sekaligus meringankan beban keluarga.

Anak Cerebral Palsy Perlu Akses dan Kesempatan

Ketua Bidang Disabilitas Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), R.A. Loretta Kartikasari, menilai dukungan bagi penyandang disabilitas tidak cukup hanya melalui bantuan kesehatan. Mereka juga perlu memperoleh kesempatan untuk belajar, bekerja, mengembangkan usaha, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Menurut Loretta, aksesibilitas di ruang publik, pusat perbelanjaan, tempat wisata, hingga ruang berkesenian perlu menjadi perhatian. Lingkungan yang mudah diakses akan membantu penyandang disabilitas menjalani aktivitas dengan lebih mandiri.

Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, organisasi penyandang disabilitas, dan masyarakat agar program inklusi tidak berhenti pada kampanye.

“Anak-anak penyandang disabilitas membutuhkan kesempatan dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka. Dukungan harus diwujudkan melalui akses yang nyata, bukan hanya kepedulian saat acara berlangsung,” menjadi pesan utama yang disampaikan dalam diskusi tersebut.

DNIKS turut mendorong gerakan inklusi melalui sejumlah bidang, antara lain kesehatan, pemberdayaan ekonomi, pariwisata inklusif, serta pengembangan bakat dan budaya.

Kemensos Dorong Lingkungan yang Inklusif

Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sosial RI, Fatma Saifullah Yusuf, yang hadir dalam kegiatan tersebut, menekankan pentingnya aksesibilitas bagi anak penyandang cerebral palsy.

Dalam materi yang disampaikan, Fatma menyatakan bahwa anak penyandang CP tidak hanya membutuhkan rasa iba, tetapi juga ruang dan aksesibilitas agar dapat berkembang serta menjalani kehidupan yang lebih mandiri.

Kementerian Sosial, menurut keterangan yang disampaikan dalam acara, mendorong dukungan melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) serta fasilitas pendukung, termasuk Sekolah Ramah Cerebral Palsy di Sentra Terpadu Inten Suweno, Bogor.

Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 diharapkan menjadi pengingat bahwa kebutuhan anak penyandang CP tidak berhenti setelah acara selesai. Akses terhadap alat bantu, pendampingan, lingkungan yang ramah disabilitas, serta dukungan bagi keluarga perlu terus diperjuangkan.

Bagi para orang tua, dukungan yang dibutuhkan bukan sekadar simpati, melainkan langkah konkret agar anak-anak mereka dapat tumbuh, belajar, dan beraktivitas dengan kesempatan yang setara.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *