Hampir 40 Persen Kasus Kesuburan Dipengaruhi Pria, Pakar Malaysia Luruskan Mitos Sulit Punya Anak

JAKARTA – Masalah sulit memiliki anak selama ini kerap dikaitkan dengan kondisi kesuburan perempuan. Padahal, pria juga memiliki kontribusi besar dalam persoalan infertilitas atau gangguan kesuburan. Bahkan, hampir 40 persen kasus infertilitas dipengaruhi faktor pria.

Hal tersebut diungkapkan dokter spesialis kesuburan sekaligus Direktur Medis GenPrime Everlink Fertility Centre Kuala Lumpur, Malaysia, Dr. Mathi Arasu Muthusamy, dalam acara edukasi bertajuk “Tentang Kesuburan, Tentang Anda: Memahami Kesuburan & Menentukan Langkah” yang digelar Stomp & Stride di Jakarta, Sabtu, 24 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Mathi menegaskan bahwa persoalan infertilitas tidak seharusnya hanya dibebankan kepada perempuan. Sebab, kesulitan memperoleh keturunan bisa disebabkan berbagai faktor, baik dari pihak pria maupun wanita.

“Kesalahpahaman terbesar lainnya adalah bahwa infertilitas murni masalah perempuan. Faktanya, hampir 40 persen kasus dipengaruhi oleh faktor pria. Kesuburan adalah tanggung jawab bersama, dan kedua belah pihak harus dievaluasi serta didukung secara setara,” ujar Mathi.

Menurutnya, pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan perlu menjalani pemeriksaan medis secara menyeluruh. Langkah tersebut penting agar penyebab infertilitas dapat diketahui dan penanganannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

IVF Bukan Pilihan Terakhir

Selain meluruskan mitos mengenai kesuburan pria dan wanita, Mathi juga membahas program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).

Dia mengatakan, masih banyak pasangan yang menganggap IVF sebagai pilihan terakhir dan prosedur yang menakutkan. Padahal, metode tersebut merupakan salah satu teknologi reproduksi berbantu yang dapat membantu pasangan dengan kondisi medis tertentu.

“IVF bukan sekadar jalan terakhir, namun ini adalah perawatan medis teruji yang sangat membantu, terutama bagi pasangan dengan masalah seperti tuba tersumbat, PCOS, atau infertilitas yang belum terjelaskan,” jelasnya.

Mathi yang memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di bidang kedokteran reproduksi itu juga memaparkan perkembangan teknologi dalam penanganan infertilitas.

Beberapa teknologi yang dibahas di antaranya Ovarian PRP, Embryo Glue, pemeriksaan ERA, hingga pengujian genetik embrio atau Preimplantation Genetic Testing (PGT).

Teknologi tersebut memiliki fungsi dan indikasi medis masing-masing. PGT, misalnya, dapat membantu mengidentifikasi kelainan kromosom tertentu pada embrio sebelum proses transfer. Sementara pemeriksaan ERA digunakan untuk mengevaluasi waktu yang tepat bagi proses implantasi embrio.

Menurut Mathi, pemilihan teknologi reproduksi harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan setiap pasien. Terlebih bagi perempuan berusia di atas 35 tahun atau pasangan yang memiliki riwayat keguguran berulang.

Rokok dan Obesitas Bisa Ganggu Kesuburan

Tak hanya mengandalkan teknologi medis, gaya hidup sehari-hari juga memiliki peran dalam menjaga kesehatan reproduksi.

Mathi mengingatkan kebiasaan merokok, obesitas, dan stres dapat memengaruhi kualitas sel telur maupun sperma. Karena itu, pasangan yang sedang merencanakan kehamilan disarankan menjaga berat badan, berhenti merokok, serta mengelola stres.

Dia juga mengingatkan bahwa menjalani program bayi tabung bukan hanya membutuhkan kesiapan fisik, tetapi juga mental. Pasalnya, proses tersebut dapat menjadi perjalanan emosional bagi pasangan.

“Infertilitas bukanlah akhir dari perjalanan, dan ini hanyalah sebuah tantangan di tengah jalan. Jangan menunda terlalu lama untuk mencari bantuan medis,” tuturnya.

Mathi berharap pasangan yang menghadapi masalah kesuburan tidak kehilangan harapan dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk mengetahui pilihan penanganan yang sesuai.

Stomp & Stride Ajak Masyarakat Terbuka Bahas Infertilitas

Sementara itu, perwakilan Stomp & Stride, Ivon Thomas, mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk membuka ruang diskusi mengenai persoalan kesuburan yang selama ini masih dianggap tabu.

Menurut Ivon, banyak pasangan membutuhkan informasi medis yang benar sekaligus dukungan emosional ketika menghadapi masalah sulit memiliki keturunan.

“Di era modern, kita perlu semakin berani membuka percakapan soal fertilitas. Semakin banyak yang memahami, semakin banyak pula pasangan yang bisa menemukan solusi yang tepat,” ujar Ivon.

Melalui kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai infertilitas dan IVF sekaligus kesempatan mengikuti sesi tanya jawab langsung dengan pakar fertilitas dari Malaysia.

Stomp & Stride berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat memahami bahwa infertilitas bukan hanya persoalan perempuan. Pemeriksaan dan dukungan dari kedua pasangan menjadi bagian penting dalam menentukan langkah menuju kehamilan.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *