Bencana Kemanusiaan di Palestina, Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam di Dunia

SINARPAGINEWS.COM, MAJALENGKA – Sebagai umat Islam, memakan hewan barma’i (tortoises) yakni kura-kura menurut jumhur ulama adalah haram karena merupakan hewan yang dapat hidup di dua alam. Meski ada sebagian pendapat yang membolehkan untuk jenis penyu dengan proses penyembelihan sesuai syariat Islam namun, umat Islam dituntut untuk menghindari subhat jika ada alternatif lainnya yang memungkinkan. Lalu, apalah daya dengan mereka yang hidup dalam bencana kemanusiaan?

Warga Palestina mulai memakan daging kura-kura untuk memenuhi kebutuhan protein mereka imbas krisis makanan akibat pengepungan dan genosida yang dilakukan Israel. Serangan berkepanjangan yang dilakukan Israel menyebabkan krisis pangan di Gaza, Palestina. Daging kura-kura dianggap sebagai pangan alternatif karena tidak adanya sumber protein lain (cnnindonesia.com, 19/4/2025).

Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa ( WFP ) telah memperingatkan tentang krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza. WFP juga memperingatkan tentang konsekuensi parah jika kondisi saat ini terus berlanjut, dengan menunjukkan bahwa warga sipil Palestina di Gaza sudah menghadapi kondisi kemanusiaan yang mengerikan, dengan kekurangan sumber daya penting yang akut untuk menopang kehidupan mereka (metrotvnews.com, 20/4/2025).

Bencana kemanusiaan ini adalah tanggung jawab siapa? Blokade total Gaza telah diberlakukan penjajah Zionis sejak 2 Maret lalu. Penjajah Zionis memblokade bantuan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan lainnya. Hal ini memicu kuat terjadinya bencana kelaparan kepada kurang lebih dua juta umat Muslim di Palestina.

Terjadinya penjajahan yang dilakukan oleh Zionis Yahudi merupakan akar permasalahannya. Keserakahan dan kedzaliman Zionis merupakan persoalan utamanya. Jika solusi dari sebagian umat Islam adalah dengan mengirimkan bantuan, maka bantuan apa yang benar-benar akan mampu menyelesaikan?

Sebagai umat Nabi Muhammad Saw, Beliau, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda; “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari No. 2262).

Mengirimkan makanan, obat-obatan dan berbagai kebutuhan lainnya memang tidak boleh disepelekan dampaknya. Namun, pada hakikatnya, semua itu hanya solusi jangka pendek yang tidak menjangkau akar permasalahannya. Muslim di Palestina sejatinya membutuhkan kekuatan militer untuk melawan kedzaliman para penjajah Zionis yang tak mengenal belas kasih.

Terpecahnya umat Islam menjadi berbagai negara bagian merupakan sumber runtuhnya perisai umat yang sebenarnya, termasuk perisai bagi umat Muslim di Palestina. Paham nasionalisme telah mengikis rasa keimanan, membatasi gerak juang membela saudara Muslim di Palestina yang tengah terancam. Sehingga mampu disimpulkan bahwa bencana kemanusiaan yang terjadi kepada saudara Muslim di Palestina sesungguhnya merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam di dunia.

Dari itu, sudah sepantasnya umat Islam mulai berpikir menyeluruh, kemudian bangkit dan menyatukan kembali tubuh-tubuh umat yang tercerai berai dihantam paham nasionalisme tersebut dalam satu kepemimpinan global. Umat Islam harus menyeru seluruh Muslim di dunia dengan seruan yang sama, yakni jihad pembebasan untuk Palestina. Gerak umat juga harus terarah dan fokus membentuk persatuan umat dan penerapan seluruh syariat.

Kemudian, umat harus terus memupuk kembali rasa persaudaraan diantara umat Islam yang telah lama lapuk. Meningkatkan lagi kesadaran para Penguasa Muslim akan fungsional amanah kekuasaan dalam agamanya, yakni Islam. Sehingga ghiroh jihad membela kehormatan umat Islam dan mengakhiri kedzaliman yang tak berkesudahan akan muncul sebagai konsekuensi dari rasa keimanan dan mampu diamalkan. Dengan demikian, bencana kemanusiaan di Palestina akan terselesaikan, umat akan kembali dengan kehormatan dan memiliki perisai. Allahu’alam bishshowab.

Oleh : Nunung Nurhayati (Ibu Rumah Tangga, Aktivis Muslimah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *