SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Pelaksanaan car free day (CFD) di kawasan Jalan Jenderal Sudirman hingga Monumen Mandala, Makassar, kembali dipadati aktivitas promosi merek dan hiburan komersial. Salah satu kegiatan yang menyita perhatian publik adalah acara bertajuk “Extrajoss Ultimate Takeover” yang menghadirkan parade komunitas, musik, hingga aktivasi produk di ruang publik pada Minggu, (25/5/2026).
Acara tersebut memang berhasil menarik ribuan anak muda dan komunitas urban. Namun, di sisi lain, sejumlah warga menilai keberadaan kegiatan promosi berskala besar di area CFD mulai menggeser fungsi utama ruang publik yang seharusnya menjadi tempat olahraga, interaksi warga, dan kawasan bebas polusi kendaraan.
Sejak pagi hari, kawasan CFD dipenuhi panggung hiburan, parade komunitas, hingga aktivitas promosi yang mendominasi jalur pedestrian dan titik keramaian. Situasi itu membuat sebagian pengunjung mengaku merasa ruang gerak masyarakat umum menjadi lebih terbatas dibanding biasanya.
“CFD sekarang terasa seperti arena promosi produk. Orang datang mau olahraga atau santai jadi bercampur dengan keramaian event komersial,” ujar salah satu pengunjung CFD yang ditemui di kawasan Monumen Mandala.
Fenomena masuknya berbagai aktivasi merek ke ruang publik sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan CFD di berbagai kota besar Indonesia kerap menjadi lokasi favorit perusahaan untuk melakukan promosi karena tingginya konsentrasi massa dan dominasi anak muda.
Pengamat ruang publik menilai pemerintah daerah perlu memperjelas batas antara kegiatan komunitas dan kepentingan komersial agar fungsi sosial CFD tidak hilang. Apalagi, ruang publik semestinya tetap memberi kenyamanan bagi seluruh warga tanpa dominasi iklan terselubung maupun branding berlebihan.
Selain itu, penggunaan komunitas sebagai bagian dari strategi pemasaran juga dinilai perlu dikritisi. Banyak komunitas urban, mulai dari komunitas lari, BMX, skateboard, hingga musik jalanan, kini kerap dilibatkan dalam kegiatan promosi perusahaan besar untuk menarik perhatian pasar anak muda.
Di satu sisi, kolaborasi tersebut membuka ruang tampil bagi komunitas. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa kreativitas komunitas perlahan hanya menjadi alat kampanye pemasaran korporasi.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai arah perkembangan ruang publik perkotaan, terutama CFD yang awalnya hadir sebagai ruang sehat dan inklusif bagi masyarakat. Jika tidak diatur secara seimbang, dominasi event promosi dikhawatirkan dapat mengurangi esensi utama CFD sebagai ruang milik warga.
Hingga kini, tren pemanfaatan CFD sebagai media promosi masih terus berlangsung di sejumlah kota besar, termasuk Makassar, seiring meningkatnya persaingan brand dalam menyasar generasi muda dan komunitas urban.**






