Festival Film Antikorupsi 2026 Nyala Integritas Dari Ruang Sinema

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – 03 November 2026. Sebuah cerita pendek terkadang menyimpan pesan yang panjang. Dalam beberapa menit, penonton dapat diajak menyaksikan dilema antara kejujuran dan kepentingan pribadi, keberanian melawan ketidakadilan, hingga konsekuensi dari sebuah pilihan. Melalui kekuatan cerita dan gambar, nilai integritas yang kerap terasa abstrak dapat hadir lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang terus dibawa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST).

Untuk itu, sebagai rangkaian ACFFEST yang telah memasuki tahun ke-12, KPK melalui Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi (Soskam) menggelar Festival Film Antikorupsi 2026 bertajuk ‘The Archipelago Speaks: A Nation of Stories, A Movement of Voices’, pada 3-5 November 2026.

Ketua KPK Setyo Budiyanto menyampaikan, ACFFEST tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi sineas, tetapi juga sarana memperluas kampanye antikorupsi melalui karya audiovisual. Tahun ini, sebanyak 46 film pendek akan ditayangkan selama tiga hari dengan target menjangkau sekitar 600 penonton. Menurutnya, film memiliki kekuatan untuk meninggalkan kesan dan membangun kesadaran ketika pesan yang disampaikan dekat dengan kehidupan penontonnya.

“Harapan saya, film-film ini tidak berhenti hanya sampai di festival. Bagaimana karya-karya ini bisa menjangkau ruang yang lebih luas, termasuk melalui jaringan bioskop. Bahkan, sebelum menyaksikan film-film yang sedang populer, masyarakat bisa lebih dahulu menyaksikan film pendek yang membawa pesan integritas. Dengan begitu, gaungnya dapat menyebar dan pesannya terus terekam dalam ingatan,” ujar Setyo saat membuka Festival Film Antikorupsi 2026 di Gedung ACLC KPK, Jakarta, Selasa (3/11).

Setyo juga berharap film-film antikorupsi dapat menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari. Misalnya, ditayangkan sebelum kegiatan belajar di sekolah atau sebelum masyarakat memulai aktivitas. Dengan demikian, pesan yang disampaikan tidak hanya menjadi pengalaman sesaat ketika menonton, tetapi dapat terus diingat dan diterapkan dalam kehidupan.

Menurutnya, keberlanjutan ACFFEST tidak terlepas dari keterlibatan para sineas, komunitas, dan berbagai pihak yang selama ini memberikan kontribusi. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memperluas jangkauan kampanye antikorupsi melalui media kreatif. Sebab, upaya membangun budaya antikorupsi membutuhkan partisipasi banyak pihak, termasuk mereka yang menyampaikan pesan melalui karya seni dan budaya.

Senada, Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Cahya H. Harefa menegaskan bahwa ACFFEST bukan sekadar kompetisi untuk menghasilkan karya terbaik. Lebih dari itu, festival ini merupakan ruang pembelajaran bersama yang mengajak masyarakat memahami nilai integritas melalui cerita dan pengalaman yang dekat dengan keseharian.

“Film dapat membantu kita memahami dilema yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tanggung jawab, keadilan, hingga kepentingan. Terkadang, pesan akan lebih mudah kita tangkap melalui sebuah cerita dibandingkan hanya mendengarkan sosialisasi. Karena itu, kami berharap karya-karya ini tidak hanya ditonton, tetapi juga menginspirasi masyarakat untuk melakukan kebaikan sosial dan membiasakan perilaku berintegritas,” tutur Cahya.

Menurutnya, para sineas memiliki peran penting dalam menangkap realitas dan keresahan yang berkembang di masyarakat. Melalui perspektif kreatif, persoalan yang mungkin dianggap sederhana dapat diangkat menjadi cerita yang mengandung pembelajaran. Salah satunya tentang keberanian menolak menikmati sesuatu yang diketahui berasal dari hasil korupsi.

Kekuatan film sebagai medium edukasi juga mendapat dukungan dari Ketua Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia Naswardi. Ia menilai penyelenggaraan ACFFEST selama 12 tahun merupakan praktik baik yang dapat menjadi inspirasi bagi kementerian dan lembaga lain untuk menyampaikan pesan publik melalui karya audiovisual.

Berdasarkan data LSF, jumlah penonton film nasional melalui jaringan bioskop pada 2025 mencapai sekitar 80,2 juta orang, dengan 280 judul film yang ditayangkan. Capaian tersebut menunjukkan besarnya ekosistem perfilman nasional sekaligus potensi jangkauan film sebagai sarana literasi publik.

“Bayangkan jika puluhan juta penonton tersebut juga dapat dijangkau dengan pesan-pesan pendidikan antikorupsi dan penguatan integritas. Ini menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan bersama. Film tidak hanya mengandung hiburan, tetapi juga dapat membawa tema pendidikan, literasi, dan persoalan sosial,” ungkap Naswardi.

Ia menegaskan, LSF siap mendukung penguatan literasi antikorupsi melalui kolaborasi dengan KPK, termasuk membuka peluang pemanfaatan jaringan dan ekosistem perfilman nasional. Menurutnya, pesan integritas juga penting diperkenalkan sejak dini, terutama kepada pelajar, mahasiswa, santri, dan lingkungan keluarga.

46 Film, 10 Tema, Beragam Perspektif Integritas

Dalam penyelenggaraan tahun ini, kompetisi ACFFEST menerima 1.105 karya yang terbagi dalam lima kategori, yakni Ide Cerita Film Pendek, ACFFEST Regional Barat, Film Pendek Fiksi, Film Pendek Pelajar, dan Film Pendek Vertikal. Tingginya jumlah karya yang masuk menunjukkan antusiasme para sineas untuk mengambil bagian dalam menyuarakan nilai-nilai integritas melalui medium audiovisual.

Sementara, dalam penyelenggaraan Festival Film Antikorupsi 2026 yang merupakan rangkaian ACFFEST, penonton akan diajak menyelami 46 film pendek besutan ACFFEST melalui beragam perspektif yang dikemas melalui 10 tema. Di antaranya, ‘Her Side of The Story’ yang mengangkat berbagai kisah dari perspektif perempuan; ‘Little Voice’ yang memperlihatkan nilai integritas dari sudut pandang anak-anak; hingga ‘Small Problems, Big Problems’ yang mengemas persoalan integritas melalui pendekatan humor. Tema-tema ini juga akan diputar dalam 10 sesi selama tiga hari kegiatan di Gedung ACLC KPK.

Keberagaman tema tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat persoalan integritas dari berbagai sudut pandang. Nilai kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian sosial tidak selalu harus disampaikan melalui persoalan besar, tetapi juga dapat ditemukan dalam pilihan-pilihan sederhana yang dihadapi setiap hari.

Setyo berharap ACFFEST dapat terus menjadi ruang bagi lahirnya cerita-cerita yang merepresentasikan keberagaman perspektif masyarakat Indonesia. Sebab, pesan antikorupsi tidak selalu harus disampaikan melalui narasi besar tentang penindakan atau kerugian negara, tetapi juga melalui kisah-kisah sederhana yang merefleksikan nilai integritas dalam kehidupan.

“Nilai antikorupsi dapat hadir melalui kisah sederhana tentang seseorang yang memilih jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, berani menolak ketidakadilan, atau bertanggung jawab ketika dihadapkan pada kepentingan pribadi,” jelas Setyo.

Untuk diketahui, pembukaan Festival Film Antikorupsi 2026 menjadi bagian dari Road to Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2026. Lewat ACFFEST, KPK berharap ruang sinema dapat menjadi salah satu medium untuk menyalakan kesadaran kolektif. Sebab, ketika sebuah cerita mampu menyentuh dan menggerakkan penontonnya, pesan integritas berpeluang tumbuh melampaui layar, menjadi inspirasi, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Hadir dalam pembukaan Festival Film Antikorupsi 2026, Anggota Dewan Pengawas KPK Benny Mamoto; Deputi Informasi dan Data KPK Eko Marjono; Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Aminudin; Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK Amir Arief; Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Welfizon Yuza; serta perwakilan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, BUMN, mitra internasional, dan komunitas perfilman, antara lain Kementerian Kebudayaan, Kemendes PDT, Sekretariat ASEAN, GIZ, Bank Mandiri, Garuda Indonesia, PT KAI, dan Transjakarta. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *