Film Tukar Takdir Angkat Trauma Kecelakaan Pesawat, Nicholas Saputra Jadi Satu-Satunya Korban Selamat

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Sutradara Mouly Surya kembali menghadirkan karya terbaru berjudul Tukar Takdir. Film yang diadaptasi dari novel karya Valiant Budi (Vabyo) ini menyoroti drama investigasi kecelakaan pesawat, sebuah tema yang jarang diangkat di perfilman Indonesia.

Tukar Takdir diproduksi oleh Starvision, Cinesurya, dan Legacy Pictures. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2 Oktober 2025, setelah lebih dulu diputar dalam program Asian Contents & Film Market (ACFM) di ajang Busan International Film Festival (BIFF) 2025, yang berlangsung pada 20–23 September.

Cerita Tentang Trauma dan Rasa Bersalah

Film ini berpusat pada Rawa (Nicholas Saputra), satu-satunya penumpang yang selamat dari jatuhnya pesawat Jakarta Airways 79. Keselamatannya justru membuat ia dihantui rasa bersalah, sekaligus berhadapan dengan keluarga korban, seperti Zahra (Adhisty Zara), putri pilot, dan Dita (Marsha Timothy), istri penumpang yang kursinya ditukar dengan Rawa.

Cuplikan trailer resmi memperlihatkan bagaimana Rawa harus menanggung trauma sekaligus menjadi sasaran duka dan amarah. “Kenapa yang ada di sini bukan suami saya?” ujar Dita dalam salah satu adegan, menggambarkan luka emosional mendalam.

Proyek Ambisius yang Lama Digodok

Produser Starvision, Chand Parwez, mengungkapkan ide film ini sudah dibicarakan sejak sebelum pandemi.
“Ini merupakan karya yang cukup ambisius, bahkan sudah lama sekali kami diskusikan,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (10/9/2025).

Sementara itu, produser Cinesurya, Rama Adi, menyebut riset mendalam dilakukan untuk menampilkan detail investigasi kecelakaan pesawat secara autentik. “Kami meriset bagaimana proses investigasi berjalan, supaya bisa menggambarkan situasi secara realistis,” katanya.

Antusiasme Sutradara dan Para Pemain

Mouly Surya menilai film ini sebagai tantangan baru dalam kariernya. Ia mengaku terinspirasi dari kegemarannya menonton serial dokumenter Air Crash Investigation.
“Logistiknya cukup kompleks karena latar belakangnya kecelakaan pesawat. Kami berusaha membuatnya believable, dan itu membutuhkan kerja sama intens,” ujar Mouly.

Nicholas Saputra menyebut perannya sebagai Rawa mewakili banyak orang yang pernah mengalami musibah besar. “Cerita di film ini sangat relate. Rawa adalah representasi orang yang harus menghadapi trauma, begitu juga karakter lain,” ujarnya.

Aktris Marsha Timothy menambahkan bahwa perannya sebagai Dita memberi tantangan emosional tersendiri. “Saya adalah salah satu orang yang takut membicarakan petaka pesawat. Tapi lewat film ini, saya belajar menghadapi ketakutan itu,” katanya.

Selain Nicholas, Marsha, dan Adhisty Zara, film ini juga menampilkan Meriam Bellina, Marcella Zalianty, dan Devi Permatasari, yang berperan sebagai psikiater pendamping Rawa.

Tentang Kesedihan, Trauma, dan Kesembuhan

Mouly Surya menegaskan Tukar Takdir bukan hanya tentang tragedi pesawat, tetapi juga perjalanan emosional para tokohnya.
“Film ini berbicara tentang kedukaan, trauma, dan bagaimana para karakter menemukan koneksi di tengah situasi putus asa,” ujarnya.

Valiant Budi, penulis novel aslinya, mengungkapkan cerita tersebut lahir dari pengalaman personalnya. “Novel ini saya tulis ketika mengalami kehilangan dan trauma. Jadi saya sangat senang ketika karya ini bisa terealisasi ke layar lebar,” katanya.***


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *