“Angka-angka dalam laporan keuangan bukan sekadar cerminan profit, tapi juga cermin kepedulian kita terhadap bumi.”
Setiap tanggal 22 April, masyarakat dunia memperingati Hari Bumi sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup. Lingkungan tempat kita tinggal, hidup, belajar, hingga berbisnis. Perayaan ini tidak hanya milik para aktivis lingkungan atau pemerhati alam saja, tetapi juga menjadi panggilan moral bagi seluruh profesi termasuk profesi akuntan.
Mungkin sebagian besar masyarakat belum menyadari bahwa dunia akuntansi pun memiliki kontribusi besar dalam upaya pelestarian bumi. Inilah yang dikenal sebagai akuntansi hijau (green accounting), sebuah pendekatan yang menempatkan aspek lingkungan sebagai bagian integral dalam pencatatan, pelaporan, dan pengambilan keputusan ekonomi.
Apa itu Akuntansi Hijau?
Akuntansi hijau adalah sistem akuntansi yang memperhitungkan dampak lingkungan dari aktivitas ekonomi suatu entitas. UNEP PBB mendefinisikan ekonomi hijau sebagai sebuah sistem ekonomi yang meningkatkan kesejahteraan manusia secara adil dan sosial, secara signifikan mengurangi risiko lingkungan hidup, dan melindungi sumber daya alam (SDA) melalui sistem perekonomian yang berkarbon rendah, dengan partisipasi semua pihak (Hoesada, 2022). Tujuannya adalah membantu perusahaan memahami dan mengelola dampak ekologis dari operasional mereka, sekaligus mendorong penerapan praktik bisnis yang berkelanjutan. Ini mencakup penghitungan biaya lingkungan, pencatatan pengeluaran untuk mitigasi dampak, serta pengungkapan informasi yang terkait dengan penggunaan sumber daya alam, emisi, dan limbah.
Dengan kata lain, akuntansi hijau bukan hanya soal angka, tetapi tentang tanggung jawab moral dan keberlanjutan jangka panjang. Di sinilah pelaporan keuangan berperan strategis sebagai cermin transparansi dan alat pengendali perilaku bisnis yang bertanggung jawab terhadap bumi.
Mengapa Relevan di Hari Bumi?
Di era krisis iklim dan degradasi lingkungan, praktik akuntansi tidak bisa lagi hanya terpaku pada aspek finansial semata. Pelaporan keuangan seharusnya turut mencerminkan bagaimana perusahaan memperlakukan bumi: apakah mereka memanfaatkan sumber daya secara bijak, meminimalkan limbah, dan bertanggung jawab atas jejak karbon yang mereka tinggalkan?
Hari Bumi menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan peran ini. Akuntan dan pelaku usaha perlu melihat bahwa keberlanjutan bukan beban, melainkan investasi masa depan. Ketika laporan keuangan mencantumkan biaya untuk pengolahan limbah, efisiensi energi, atau program penghijauan, itu menunjukkan bahwa perusahaan sadar akan tanggung jawab ekologisnya.
Namun, idealisme ini masih menghadapi sejumlah tantangan di lapangan. Berbagai isu terkini menunjukkan bahwa penerapan akuntansi hijau belum berjalan optimal di Indonesia.
Pertama, masih terdapat kekosongan regulasi dan standar pelaporan yang tegas terkait akuntansi hijau, terutama bagi sektor UMKM yang justru mendominasi struktur ekonomi nasional. Hal ini membuat banyak entitas bisnis kesulitan mengintegrasikan aspek lingkungan dalam laporan keuangan mereka secara sistematis dan terstandar (Putra & Sisdianto, 2024).
Kedua, meskipun beberapa perusahaan, termasuk BUMN, telah memulai inisiatif pelaporan keberlanjutan, namun dalam praktiknya pengungkapan kebijakan lingkungan seringkali tidak sesuai dengan standar global seperti GRI atau IFRS Sustainability Disclosure Standards. Akibatnya, transparansi dan akuntabilitas menjadi kabur di mata pemangku kepentingan (Dunakhir et al., 2024).
Ketiga, penelitian di beberapa kota seperti Makassar menemukan bahwa perusahaan menengah memiliki kesadaran tinggi terhadap isu lingkungan, namun implementasi akuntansi hijau masih rendah karena keterbatasan pengetahuan teknis dan sumber daya (Rasyid et al., 2024).
Keempat, tantangan besar lainnya adalah kurangnya data lingkungan yang akurat dan konsisten. Banyak perusahaan belum memiliki sistem pencatatan yang mampu menghitung secara rinci dampak emisi, penggunaan air, atau limbah industri secara periodik (Saragih, 2024).
Terakhir, penelitian menunjukkan bahwa pengungkapan emisi karbon belum sepenuhnya berdampak terhadap peningkatan nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa aspek lingkungan masih dipandang sebagai beban, bukan sebagai bagian dari nilai strategis bisnis (Sari et al., 2024).
Menuju Laporan Keuangan yang Ramah Lingkungan
Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan menuju akuntansi hijau masih panjang. Namun langkah awal sudah ada. Standar pelaporan keberlanjutan seperti GRI, SASB, TCFD, dan pendekatan triple bottom line kini mulai diperkenalkan di dunia akademik dan korporasi. Di Indonesia sendiri, beberapa perusahaan besar sudah mulai merilis sustainability report sebagai pelengkap laporan keuangan tahunan.
Tentu, tantangan terbesar justru ada di sektor menengah dan kecil, yang belum memiliki kemampuan teknis maupun insentif untuk menerapkan prinsip-prinsip pelaporan keberlanjutan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, regulator, dan pelaku bisnis sangat dibutuhkan untuk menghadirkan ekosistem akuntansi hijau yang sesuai dengan bidangnya.
Saatnya Berhitung Demi Bumi
Menjaga bumi bukan semata urusan aktivis lingkungan. Ini adalah tanggung jawab bersama termasuk para akuntan, pendidik, dan pelaku usaha. Tentunya kita berharap saat menerapkan prinsip akuntansi hijau dan menyusun pelaporan keuangan yang ramah lingkungan, kita ikut membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.
Hari Bumi adalah pengingat bahwa setiap keputusan bisnis sekecil apa pun meninggalkan jejak. Maka, mari berhitung dengan hati, dan menjadikan angka sebagai alat untuk menjaga bumi tetap lestari.
Referensi:
Dunakhir, S., Idrus, M., & Afiah, N. (2024). The Implementation of Green Accounting in Indonesia: A Case Study. Journal of Social Science and Business Studies, 2(4), 294–302. https://doi.org/10.61487/jssbs.v2i4.106
Hoesada, J. (2022, October 3). Akuntansi Hijau. Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. https://www.ksap.org/sap/akuntansi-hijau/
Putra, B., & Sisdianto, E. (2024). Penerapan Green Accounting dalam Mendukung Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia. Jurnal Media Akadmik (JMA), 2(12).
Rasyid, S., Azis, N. A., & Rahmat, A. (2024). Green Accounting for Medium-Sized Enterprises: A Review of Participatory Action Research Towards A Sustainable Future. International Journal of Economics and Financial Issues, 15(1), 84–92. https://doi.org/10.32479/ijefi.17331
Saragih, F. (2024). Implementation Of Green Accounting: Literature Review. Current Issues & Research in Social Sciences, Education and Management (CIRSSEM), 2(2).
Sari, F. M., Suci, A. A., Ananta, M. D., & R. Pandin, M. Y. (2024). Pengaruh Akuntansi Hijau dan Kinerja Lingkungan terhadap Kinerja Keuangan pada Perusahaan Sektor Kimia yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2021-2023. Widya Balina, 9(1), 183–197. https://doi.org/10.53958/wb.v9i1.547
Oleh: Rahmadi, SE., M.Ak
Dosen Sistem Informasi Akuntansi, Telkom University






