Ryan Kyto: Tetap Jadi Diri Sendiri di Tengah Perkembangan Musik dan Polemik Royalti

SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Musisi senior Ryan Kyto masih setia berkarya dari rumahnya di kawasan Condet, Jakarta Timur. Meski tidak lagi sering tampil di panggung, kesibukan sehari-harinya tetap berputar di dunia musik, mulai dari menggarap lagu baru, melakukan mixing, hingga mendampingi penyanyi muda. Di sela-sela aktivitasnya, ia menekankan bahwa perkembangan teknologi, termasuk kehadiran Artificial Intelligence (AI), tidak membuatnya kehilangan jati diri dalam bermusik.

Tetap Produktif dari Rumah

“Kalau soal kesibukan, saya baru saja selesai mixing untuk penyanyi adik-beradik asal Norwegia yang sebenarnya orang Indonesia. Ibunya dulu atlet ritmik, juga bintang iklan dan sinetron di era 2000-an. Mereka liburan ke sini, minta belajar nyanyi. Saya bilang, saya enggak mau ngajar, tapi kalau mau bikin lagu saya siap. Itu baru tiga hari lalu, artinya rutinitas saya masih tetap di musik. Sisa waktu saya di rumah ya menyiram bunga, beres-beres, sederhana saja,” ungkap Ryan membuka perbincangan.

Musik Bukan Tren, Tapi Selera

Menyinggung perkembangan musik, Ryan menilai teknologi digital membuat dunia musik semakin terbuka, tetapi baginya selera tetap menjadi penentu utama.

“Kalau soal perkembangan musik, sekarang ini tidak ada bedanya dengan luar negeri. Apa yang dibuat di Amerika, detiknya bisa juga langsung ada di sini. Teknologi membuat kita sejajar. Tapi bagi saya, kunci utamanya bukan ikut-ikutan genre zaman sekarang, melainkan tetap pada selera. Saya tetap jadi diri sendiri. Kalau saya bikin lagu dengan nuansa Melayu atau dangdut, itu karena saya suka, bukan karena tren. Jadi walaupun ada AI, ada bantuan teknologi, karya saya tetap utuh sebagai karya pribadi. Selera itu yang mengikat,” jelasnya.

Polemik Royalti yang Tak Kunjung Usai

Namun di balik gairah berkarya, Ryan menyoroti persoalan klasik di industri musik: royalti. Menurutnya, masih banyak pihak yang belum memahami, bahkan salah kaprah, tentang sistem royalti dan mekanisme direct license.

“Masalah royalti ini kan sering bikin ribut. Padahal undang-undangnya sudah jelas: setiap karya yang digunakan secara komersial ada hak yang harus kembali ke penciptanya. Tapi kenyataannya, sosialisasi masih sangat minim. Jangankan sampai ke pelosok, di banyak provinsi saja belum tersentuh. Akhirnya banyak yang salah paham, bilang royalti itu memaksa. Padahal ini hak yang sudah diatur negara. Kalau ada yang tidak setuju, jangan berdebat sesama pencipta, kembalikan ke pemerintah dan lembaga terkait. Sayangnya, di lapangan masih banyak yang tidak paham, bahkan ada yang sengaja bikin gaduh,” tegas Ryan.

Kritik untuk LMK

Ryan juga mengkritisi peran Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) yang dianggap belum maksimal dalam mensosialisasikan aturan dan mekanisme pembayaran royalti.

“LMK seharusnya lebih transparan. Jangan sampai para pencipta bingung. Banyak teman saya yang sampai bertengkar karena persoalan ini, padahal akar masalahnya ada pada sistem. Yang harus dilakukan bukan saling menyalahkan, tapi duduk bersama. Pemerintah, LMK, pencipta, user seperti hotel atau restoran, semua harus punya pemahaman yang sama. Royalti ini bukan keputusan sepihak pencipta, tapi amanat undang-undang. Jadi kalau ada user yang belum membayar, ya segera bayar. Kalau LMK kurang transparan, ya perbaiki. Jangan dibiarkan menggantung,” ucapnya.

Generasi dan Selera Musik

Menurut Ryan, perbedaan generasi dalam menikmati musik adalah hal wajar sehingga tidak perlu membuat pencipta lama merasa terancam.

“Anak-anak muda punya selera sendiri, begitu juga generasi tua. Sama seperti rumah makan, banyak pilihan, semua kembali ke selera. Jadi saya tidak pernah takut dengan perubahan zaman. Musik itu masalah rasa. Kalau kita yakin dengan karya kita, tidak perlu minder atau ikut-ikutan. Saya pribadi tetap di jalur saya, jadi diri sendiri, apa pun tren yang sedang ramai,” tutur Ryan.

Harapan untuk Ekosistem Musik Indonesia

Di akhir perbincangan, Ryan menitipkan harapan besar bagi ekosistem musik Indonesia agar lebih sehat, transparan, dan berpihak pada pencipta.

“Harapan saya sederhana: mari kita bersatu, jangan saling menjatuhkan. LMK harus transparan, pemerintah jangan lepas tangan, user harus taat aturan, dan pencipta jangan terpecah belah. Kalau semua berjalan benar, musik Indonesia tidak akan terganggu oleh polemik. Justru bisa semakin kuat, dihargai, dan mendunia. Bagi saya, yang terpenting adalah bagaimana karya bisa tetap hidup, dinikmati, dan memberi manfaat bagi banyak orang,” pungkasnya. ***

 


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *