SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Peralihan menuju energi bersih dinilai menjadi peluang besar bagi perusahaan dan tenaga kerja Indonesia untuk berkembang. PT Graha Usaha Teknik (GUT) mendorong agar pembangunan energi baru dan terbarukan tidak hanya menghadirkan pembangkit baru, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan bagi industri dan tenaga kerja dalam negeri.
Hal tersebut disampaikan GUT dalam The 12th IndoEBTKE Conference & Exhibition (IndoEBTKE ConEx) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, 2-4 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, GUT menyoroti pentingnya peran perusahaan nasional dalam mendukung pembangunan energi Indonesia. Sebab, pembangunan pembangkit energi terbarukan juga membutuhkan jaringan listrik, gardu induk, konstruksi, pemasangan peralatan hingga perawatan.
Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional GUT, Kuswanto Rahayu, mengatakan perubahan menuju energi bersih tidak cukup hanya dengan membangun sumber energi baru.
“Transisi energi bukan hanya berbicara tentang sumber energi yang baru. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana energi itu dapat dibangun, dihubungkan ke sistem kelistrikan, diuji, dioperasikan, dan dipelihara secara andal,” kata Kuswanto, saat jumpa pers di Jakarta, (2/9/2026(.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi peluang bagi perusahaan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan.
“Bagi kami, transisi energi adalah kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk naik kelas,” ujarnya.
Puluhan Gigawatt Pembangkit Baru
Peluang tersebut semakin besar dengan adanya rencana pemerintah menambah kapasitas pembangkit listrik.
Dalam RUPTL PLN 2025-2034, pemerintah menargetkan tambahan pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW) hingga 2034.
Sekitar 76 persen dari tambahan tersebut berasal dari energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.
Pembangunan itu juga diperkirakan membuka lebih dari 1,7 juta lapangan kerja. Pekerjaan tersebut mulai dari perencanaan, pembangunan, pembuatan peralatan pendukung hingga pengoperasian.
GUT menilai kondisi ini bisa menjadi kesempatan bagi perusahaan dalam negeri untuk ikut mengerjakan proyek energi.
GUT sendiri memiliki pengalaman mengerjakan pembangunan dan pemasangan sistem kelistrikan, jaringan transmisi, gardu induk, hingga perawatan pembangkit.
Perusahaan juga pernah terlibat dalam sejumlah proyek energi terbarukan, di antaranya jaringan transmisi 150 kV East Bali Solar Power Plant berkapasitas 25 MWp, proyek panas bumi Sorik Marapi dan Ulubelu.
SDM Lokal Jangan Hanya Jadi Pekerja
Selain perusahaan, kualitas tenaga kerja Indonesia juga menjadi perhatian.
Direktur Teknis GUT, Abdul Hamid, mengatakan pembangunan energi terbarukan harus menjadi kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk meningkatkan kemampuan.
Menurutnya, keberhasilan tidak hanya dilihat dari berapa banyak pekerja lokal yang mendapatkan pekerjaan.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana tenaga kerja tersebut mendapatkan knowledge, pengalaman, dan standar kerja sehingga kompetensinya terus meningkat,” kata Abdul.
Ia berharap engineer dan teknisi Indonesia bisa memiliki kemampuan yang diakui di tingkat internasional.
“Engineer dan teknisi Indonesia harus mampu bekerja dengan standar internasional,” ujarnya.
GUT mencatat tenaga profesionalnya juga telah terlibat dalam proyek di luar negeri. Di antaranya proyek pembangkit listrik tenaga air Sondu Miriu di Kenya dan proyek gardu induk Loyang di Singapura.
Menurut Abdul, pengalaman bekerja di proyek dalam dan luar negeri dapat menjadi bekal bagi tenaga kerja Indonesia untuk bersaing lebih luas.
Anak Negeri Bisa Bersaing
Direktur Marketing GUT, Agung Sutiastoro, mengatakan kebutuhan energi dunia terus berkembang. Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi peluang bagi perusahaan Indonesia.
“Dunia membutuhkan semakin banyak infrastruktur energi yang reliable, efficient, dan sustainable,” kata Agung.
Ia mengatakan Indonesia jangan hanya menjadi tempat masuknya investasi energi, tetapi juga harus memiliki perusahaan yang mampu mengerjakan proyek tersebut.
“Kebutuhan dengan standar internasional dapat dikerjakan oleh anak negeri,” ujarnya.
Menurut Agung, perusahaan Indonesia perlu terus meningkatkan kemampuan, kualitas, keselamatan kerja dan pengalaman agar dipercaya mengerjakan proyek berskala internasional.
“Kita ingin suatu saat ketika pasar internasional membutuhkan kemampuan engineering, construction, atau commissioning, perusahaan dan tenaga ahli Indonesia menjadi salah satu pilihan mereka,” pungkasnya.
Transisi Energi Harus Gerakkan Ekonomi
Direktur Keuangan GUT, Ambarlin Widanarti, menambahkan pembangunan energi juga harus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Menurutnya, ketika proyek energi berjalan, banyak sektor lain ikut bergerak. Mulai dari kontraktor, pemasok barang, transportasi, jasa profesional hingga tenaga kerja.
“Transisi energi harus menghasilkan economic activity yang nyata. Investasi masuk, proyek bergerak, perusahaan nasional mendapatkan kesempatan, vendor dan industri pendukung tumbuh, serta tenaga kerja terserap,” kata Ambarlin.
Ia berharap pembangunan energi bersih bisa berjalan bersama dengan pertumbuhan industri nasional.
“Kita membutuhkan pasar yang terus bergerak. Karena dari pasar yang sehat akan muncul investasi, kesempatan usaha, dan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
GUT menilai transisi energi dapat menjadi momentum untuk memperkuat tiga hal sekaligus, yakni energi bersih, industri nasional dan kualitas tenaga kerja Indonesia.
Dengan semakin banyaknya proyek energi, perusahaan dalam negeri diharapkan mendapat kesempatan berkembang. Di sisi lain, tenaga kerja Indonesia juga bisa mendapatkan pengalaman dan kemampuan baru.
Pada akhirnya, perusahaan dan tenaga profesional Indonesia diharapkan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bersaing di pasar internasional.
“Transisi energi bukan hanya perubahan tentang bagaimana Indonesia menghasilkan energi. Ini adalah kesempatan untuk membangun kemampuan bangsa agar perusahaan Indonesia naik kelas, SDM Indonesia naik kelas, dan pada akhirnya Indonesia memiliki posisi yang semakin kuat dalam industri energi dunia,” kata Kuswanto.***





