SINARPAGINEWS.COM, SEMARANG – Pembinaan warga binaan kini tidak lagi semata-mata soal menjalani pidana, tapi juga menjadi titik balik untuk menata masa depan. Hal inilah yang ditegaskan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Tengah, Mardi Santoso, saat mendampingi kunjungan kerja Komisi XIII DPR RI di Lapas Perempuan Kelas IIA Semarang, Jumat (18/07).
Dalam kunjungan tersebut, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Rinto Subekti, beserta rombongan, tak sekadar meninjau fasilitas lapas, namun juga turut ambil bagian dalam kegiatan membatik bersama warga binaan. Didampingi langsung oleh Kakanwil, kegiatan ini menjadi simbol dukungan konkret terhadap pembinaan kemandirian dan penguatan UMKM di dalam lembaga pemasyarakatan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap pengembangan produk UMKM di dalam lapas, khususnya batik tulis hasil karya warga binaan yang telah menjadi salah satu program unggulan pembinaan kemandirian.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan di lapas tidak berhenti pada aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh aspek produktivitas dan pemberdayaan ekonomi. Melalui batik, warga binaan mendapatkan keterampilan sekaligus rasa percaya diri,” ujar Mardi Santoso.
Kakanwil juga menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus mendorong pembinaan berbasis kemandirian dan pemberdayaan ekonomi.
“Produk batik tulis warga binaan ini tidak hanya menjadi bagian dari proses rehabilitasi, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas. Kami terus bersinergi dengan berbagai pihak, untuk memperkuat program pembinaan semacam ini,” tegas Mardi Santoso.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Rinto Subekti, pun mengapresiasi pembinaan di Lapas Perempuan Semarang. Menurutnya, keterampilan membatik yang dimiliki warga binaan memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi yang besar.
“Ini bentuk pembinaan yang inspiratif. Karya-karya mereka layak mendapat dukungan dan ruang promosi yang lebih luas,” ujarnya.
Kegiatan membatik bersama berlangsung dengan penuh antusiasme. Para anggota dewan mencoba langsung proses membatik di atas bersama warga binaan, didampingi petugas pembinaan dan instruktur batik. Batik hasil karya warga binaan ini telah dipasarkan dan terus dikembangkan melalui berbagai pelatihan intensif.






