SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Film animasi keluarga Garuda Di Dadaku yang akan tayang di bioskop mulai 11 Juni 2026 menjadi salah satu proyek animasi terbesar yang dikerjakan oleh talenta lokal. Diproduksi selama tiga tahun, film ini melibatkan sekitar 550 kru, termasuk hampir 500 animator Indonesia, dan seluruh proses kreatifnya dikerjakan tanpa menggunakan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Sutradara Ronny Gani mengatakan keputusan untuk tidak menggunakan AI merupakan pilihan yang sejak awal dipegang oleh tim produksi. Menurut dia, film animasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga tentang sentuhan kreatif manusia yang mampu menghadirkan emosi dan kedekatan dengan penonton.
“Kami tidak menggunakan AI sama sekali dalam produksi animasi ini. Kami masih percaya dengan kemampuan dan karya para talenta lokal. Kami percaya karya yang diciptakan manusia akan lebih mudah terhubung dengan audiens,” ujar Ronny Gani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/6/2026).
Menurut Ronny, keputusan tersebut juga sejalan dengan tujuan besar yang ingin dicapai melalui proyek Garuda Di Dadaku, yakni membantu membangun industri animasi Indonesia agar mampu menghasilkan film layar lebar secara berkelanjutan.
Ia menilai Indonesia memiliki banyak animator berbakat yang layak mendapatkan ruang untuk berkembang dan menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat internasional.
“Kalau tujuan kita membangun industri animasi Indonesia, maka talenta-talenta yang ada harus diberi kesempatan untuk berkarya. Karena itu kami memilih mengerjakan semuanya dengan human craft,” katanya.
Produksi Berjalan Selama Tiga Tahun
Proses pengerjaan Garuda Di Dadaku memakan waktu hingga tiga tahun. Bagi produser Shanty Harmayn yang sebelumnya banyak berkecimpung di film live action, produksi animasi memberikan tantangan yang jauh berbeda.
Dalam film live action, perubahan pada adegan atau cerita masih bisa dilakukan dengan relatif cepat. Namun pada film animasi, setiap perubahan besar membutuhkan pengerjaan ulang yang memakan waktu dan biaya tidak sedikit.
“Kalau ada perubahan signifikan pada cerita, kami harus kembali ke tahap sebelumnya. Bahkan ada bagian yang harus kami ulang selama dua sampai tiga bulan demi memastikan ceritanya bisa diterima penonton,” ujar Shanty.
Selama proses produksi, tim kreatif juga beberapa kali melakukan Focus Group Discussion (FGD) dan pemutaran terbatas untuk mendapatkan masukan dari calon penonton. Hasil evaluasi tersebut menjadi bahan pertimbangan untuk menyempurnakan cerita dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan film.
Ronny mengatakan tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan animasi, tetapi memastikan kisah yang dihadirkan mampu menyentuh hati keluarga Indonesia.
“Kami ingin film ini bisa relate dengan pengalaman banyak orang. Karena itu kami terus menguji ceritanya dan memperbaiki bagian yang dirasa belum kuat,” ujarnya.
Bangun Industri Animasi Nasional
Selain menghadirkan tontonan keluarga, Garuda Di Dadaku juga menjadi simbol kolaborasi besar para pelaku industri kreatif Indonesia. Film ini melibatkan sejumlah studio animasi dan kreatif dari berbagai daerah untuk mengerjakan beragam aspek produksi.
Ronny menilai salah satu hal yang bisa dipelajari dari industri animasi luar negeri bukan hanya teknologi, tetapi juga metode kerja yang lebih efektif dan terstruktur.
Meski demikian, ia mengakui penggunaan teknologi animasi paling mutakhir masih menjadi tantangan karena berkaitan dengan biaya produksi yang tinggi.
“Kalau menggunakan teknologi paling canggih, biaya produksinya akan jauh lebih besar. Untuk menutup biaya tersebut, film harus memiliki pasar internasional yang sangat luas. Karena itu kami memilih teknologi yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan kondisi industri saat ini,” katanya.
Kisah Tentang Mimpi dan Kepercayaan
Garuda Di Dadaku mengisahkan Putra, seorang anak yang bercita-cita menjadi pemain tim nasional Indonesia. Dalam perjalanannya mengejar mimpi, Putra ditemani Gaga, sosok Garuda kecil magis yang membantunya menemukan kembali keberanian dan kepercayaan diri.
Film ini juga menghadirkan karakter Naya yang menjadi sahabat setia Putra. Melalui perjalanan mereka, film menyampaikan pesan tentang pentingnya dukungan keluarga, persahabatan, dan keberanian untuk terus bermimpi meski menghadapi berbagai keterbatasan.
Bagi Ronny, cerita tersebut lahir dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan banyak orang.
“Saya percaya setiap anak pernah merasa takut gagal atau merasa mimpinya terlalu jauh untuk diraih. Sering kali yang membuat kita terus melangkah adalah karena ada seseorang yang lebih dulu percaya kepada kita,” ujarnya.
Siap Tayang di Bioskop
Diproduseri oleh Shanty Harmayn, Aoura Lovenson Chandra, dan Tanya Yuson, Garuda Di Dadaku merupakan interpretasi animasi baru dari IP legendaris karya Salman Aristo dan Shanty Harmayn yang telah dikenal publik selama lebih dari satu dekade.
Film ini juga menghadirkan jajaran pengisi suara seperti Keanu Azka, Kristo Immanuel, Quinn Salman, Ibnu Jamil, Revalina S. Temat, Sal Priadi, Ringgo Agus Rahman, Zee Asadel, Oki Rengga, Emir Mahira, Bima Sena, hingga kapten Timnas Indonesia Rizky Ridho.
Sebelum tayang di Indonesia, film ini lebih dahulu mendapat perhatian di kancah internasional setelah masuk nominasi kategori Animation dalam Golden Goblet Awards pada Shanghai International Film Festival 2026.
Garuda Di Dadaku dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 11 Juni 2026 dan menjadi salah satu film animasi keluarga yang meramaikan musim liburan sekolah tahun ini.***






