SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Festival Bedhayan VI bertema “Memayu Hayuning Bawana” digelar di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).
Festival yang digelar untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan tari Bedhaya sebagai warisan budaya Indonesia ini menghadirkan kelompok penari profesional dari Solo. Mereka dijadwalkan tampil sebagai penutup Festival Bedhayan VI.
Ketua Umum Festival Bedhayan, Kanjeng Raden Ayu Aylawati Sarwono, mengatakan kehadiran para penari dari Solo menjadi salah satu hal istimewa dalam festival tahun ini.
“Festival Bedhayan yang ke-6 kali ini kita mendapat kehormatan ada tamu, para maestra dari Solo. Mereka laki-laki semua, satu grup, dan akan tampil sebagai penutupan nanti,” ujar Aylawati.
Menurut Aylawati, para penari tersebut merupakan seniman profesional yang telah lama menekuni dunia tari. Kehadiran mereka sekaligus memperlihatkan bahwa seni tari tradisional masih memiliki ruang di tengah perkembangan zaman.
Tari Bedhaya Bukan Sekadar Gerakan
Aylawati menjelaskan, tari Bedhaya tidak hanya mengandalkan gerakan yang indah. Setiap gerakan harus dilakukan secara selaras dengan musik, napas, dan konsentrasi penari.
“Pesan yang ingin kita sampaikan bahwa tari Bedhaya ini merupakan sebuah tarian yang sangat-sangat dapat memberikan ketenangan batin, baik dari musiknya maupun gerakannya. Mulai dari tarikan napasnya, semuanya itu harus selaras,” katanya.
Menurutnya, proses tersebut dapat membantu seseorang menemukan keseimbangan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
Nilai itu dinilai penting di tengah kehidupan masyarakat yang semakin cepat, terutama bagi generasi muda yang hidup dalam perkembangan era digital.
Aylawati pun ingin tari Bedhaya tidak hanya dikenal sebagai kesenian tradisional, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang masih relevan dengan kehidupan saat ini.
“Tidak kalah indah dan bisa memberikan keseimbangan mind, body and soul. Tidak kalah dengan yoga dari India atau taiji dari China, karena kita punya Bedhaya dari Indonesia,” jelasnya.
Dulu Sepi, Kini Makin Banyak yang Peduli
Aylawati mengaku bersyukur Festival Bedhayan kini semakin berkembang. Ia mengenang saat pertama kali menggelar festival, dirinya merasa seperti berjalan sendirian untuk memperkenalkan tari Bedhaya kepada masyarakat.
“Saya sangat bersyukur sejak Festival Bedhayan pertama yang saya laksanakan, yang dulunya sangat sunyi senyap, saya seperti berjalan sendiri di jalan yang sunyi,” tuturnya.
Namun, kondisi tersebut perlahan berubah. Kini semakin banyak pihak yang ikut terlibat, mendukung dan memberikan perhatian terhadap Festival Bedhayan.
“Sekarang sudah mulai hiruk-pikuk, banyak yang ikut, banyak yang support, banyak yang peduli. Itu membuat saya bahagia,” ujar Aylawati.
Ia mengatakan tujuan utama Festival Bedhayan adalah memasyarakatkan tari Bedhaya yang merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia.
Ajak Anak Muda Healing Lewat Tari
Aylawati juga memberikan pesan kepada generasi muda yang merasa jenuh dengan kehidupan yang serba cepat.
Menurutnya, mencari ketenangan tidak harus dilakukan dengan pergi jauh. Anak muda bisa mencoba belajar tari tradisional di sanggar yang ada di sekitar tempat tinggal.
“Kalau mau healing, karena kalian sudah jenuh dengan riuh rendah dunia ini, enggak usah pergi jauh-jauh ke mana-mana. Cari sanggar-sanggar tari di sekitar tempat tinggal kalian,” katanya.
Ia menyebut tari Bedhaya mengajarkan kelembutan, kepasrahan, keseimbangan dan kesabaran.
“Belajarlah tari Bedhaya yang sangat lembut dan sangat mengajarkan kita untuk pasrah, mengajarkan kita untuk seimbang, mengajarkan kita untuk sabar,” ucapnya.
Aylawati berharap generasi muda semakin tertarik mengenal dan mempelajari tari Bedhaya. Dengan begitu, seni tradisional Indonesia tidak hanya menjadi tontonan, tetapi terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Saya yakin kalian akan mendapatkan kedamaian dan ketenangan dalam belajar tarian ini,” pungkasnya.
Festival Bedhayan VI merupakan penyelenggaraan keenam yang digelar Aylawati Sarwono. Tahun ini, festival mengusung tema “Memayu Hayuning Bawana” dan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.**







