SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Film “Ghost in the Cell” hadir sebagai tontonan yang tak biasa: brutal dalam teror, namun tetap mengundang tawa di saat yang sama. Disutradarai oleh Joko Anwar, film ini tidak hanya menyajikan horor komedi, tetapi juga menyisipkan kritik tajam terhadap realitas sosial yang membuat penonton bukan sekadar terhibur, melainkan juga dipaksa berpikir keras tentang kondisi yang terjadi di sekitar mereka.
Diproduksi oleh rumah produksi Come and See Pictures, film ini menjadi karya ke-12 Joko Anwar yang kembali mengeksplorasi perpaduan genre secara berani. Ia menggabungkan komedi, aksi, dan horor dalam satu narasi yang mencerminkan situasi Indonesia yang dinilainya semakin absurd.
“Karena situasi Indonesia sudah terlalu absurd, jadi kalau mau membuat film tentang Indonesia juga harus bisa menangkap kesan ini. Misinya supaya penonton bisa tertawa, tapi lalu sadar bahwa kita sedang melihat diri kita sendiri,” kata Joko dalam keterangan pers, di Jakarta, 9 April 2026.
Lebih jauh, Joko menegaskan bahwa di balik kekacauan yang digambarkan dalam film, ia tetap ingin menyampaikan pesan tentang harapan. “Saya memilih untuk percaya, harapan itu masih ada. Kalau tidak ada, tidak ada lagi kekuatan untuk bangun setiap pagi. Setidaknya, masih ada yang jujur dan berani bersuara,” ujarnya.
Film ini juga mengangkat isu sensitif seperti sistem yang korup dan ketimpangan dalam penegakan hukum, termasuk bagaimana seorang narapidana dengan kekuasaan masih bisa menikmati privilese di balik jeruji. Dalam cerita, situasi tersebut digambarkan melalui dinamika kehidupan di dalam penjara yang penuh ketidakadilan.
Produser Tia Hasibuan menyebutkan bahwa meski berangkat dari realitas Indonesia, isu yang diangkat memiliki relevansi global. “Saat world premiere di Berlinale, banyak penonton merasakan keresahan yang sama, tentang sistem yang korup dan harapan akan perubahan. Cerita ini memang sangat Indonesia, tapi pesannya universal,” katanya.
Secara internasional, “Ghost in the Cell” telah mencuri perhatian sejak pemutaran perdananya di Berlinale 2026. Film ini bahkan telah terjual hak distribusinya ke 86 negara, menandai tingginya minat pasar global terhadap karya tersebut. Di dalam negeri, penayangan awal di 16 kota juga langsung disambut antusias dengan seluruh tiket terjual habis.

Dari sisi produksi, film ini melibatkan lebih dari 100 pemeran lintas generasi dan negara. Sejumlah nama besar seperti Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Rio Dewanto, hingga Bront Palarae tampil dalam ansambel yang padat dan dinamis.
Abimana, yang memerankan karakter Anggoro, mengungkapkan tantangan akting dalam film ini, terutama pada adegan aksi yang dibuat dengan teknik long take. “Dalam satu adegan, tidak hanya ada satu tempo. Bisa berubah dari serius ke seperti tarian lalu ke drama. Kalau aktor tidak paham ritme itu, semuanya bisa berantakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, karakter Anggoro yang ia perankan memiliki keterikatan kuat dengan keluarga, bahkan di dalam penjara ia berusaha membangun ‘keluarga’ versinya sendiri. Pendalaman karakter tersebut menjadi bagian penting dari kekuatan emosional film.
Secara cerita, film ini mengambil latar di sebuah lembaga pemasyarakatan yang penuh konflik. Para narapidana hidup dalam tekanan, baik dari sesama tahanan maupun aparat penjara. Ketegangan meningkat ketika satu per satu napi tewas secara misterius, hingga muncul keyakinan bahwa ada sosok hantu yang membunuh mereka yang memiliki aura paling negatif.
Dalam situasi tersebut, para napi justru berlomba-lomba berbuat baik demi bertahan hidup. Namun, di tengah sistem yang tidak adil, upaya menjaga ‘aura positif’ menjadi ironi tersendiri. Hingga akhirnya, mereka menyadari satu-satunya cara untuk bertahan adalah bersatu melawan penindasan—baik yang datang dari manusia maupun dari hal yang tak kasatmata.
Film “Ghost in the Cell” dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026. Dengan perpaduan horor, komedi, dan kritik sosial yang tajam, film ini berpotensi menjadi salah satu karya paling berani dan relevan tahun ini—menghibur sekaligus menggugah kesadaran penontonnya.***






