SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA –– Cinta bisa membahagiakan, tapi juga menyadarkan bahwa tak semua yang diperjuangkan bisa bersatu. Itulah yang dirasakan Michelle Ziudith. Aktris berusia 30 tahun itu belakangan berbicara jujur tentang pengalaman cintanya yang kerap kandas karena perbedaan keyakinan.
“Aku sendiri juga pacaran beda agama terus. Jadi rasanya udah khatam, tapi tetap aja sakit,” ujar Michelle sambil tersenyum getir saat berkunjung ke kantor Suara.com, di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (23/9/2025).
Ucapan itu terlontar berbarengan dengan promosi film terbarunya, Jangan Panggil Mama Kafir, di mana Michelle berperan sebagai Maria — perempuan Nasrani yang menikah dengan pria Muslim tanpa berpindah iman. Hubungan mereka yang semula dilandasi cinta justru diuji oleh janji, keyakinan, dan stigma sosial yang menyesakkan.
“Cinta yang Sulit Justru Paling Tulus”
Michelle mengaku, memerankan Maria membuatnya seolah menelusuri kembali kisah pribadinya sendiri.
“Kadang aku ngerasa, cinta yang sulit itu justru cinta yang paling tulus,” katanya lirih.
Film produksi Maxima Pictures dan Rocket Entertainment ini tidak semata bercerita tentang perbedaan agama, tetapi juga tentang keberanian mencintai di tengah penolakan. Disutradarai oleh Dyan Sunu Prastowo, film ini menyoroti perjuangan Maria menepati amanah suaminya untuk menanamkan nilai-nilai Islam pada anaknya — meski ia sendiri tetap setia pada keyakinannya.
Dari Janji Maria ke Jangan Panggil Mama Kafir
Menariknya, film ini semula berjudul Janji Maria sebelum akhirnya berubah menjadi Jangan Panggil Mama Kafir.
Produser Yoen K menyebut, perubahan itu bukan sekadar strategi promosi, melainkan penegasan makna cerita.
“Kami ingin orang berhenti melihat beda agama itu cuma hitam-putih. Film ini tentang keluarga — tentang bagaimana seorang ibu tetap menjalankan janji cinta dan iman secara bersamaan,” jelas Yoen.
Produser lain, Zoya Salsabila, menambahkan bahwa kisah ini merefleksikan realitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Banyak orang hidup di tengah perbedaan keyakinan. Bukan untuk menantang agama, tapi untuk memahami makna toleransi,” ujarnya.
Naskah Personal, Musik yang Menghidupkan Luka
Naskah film ini ditulis oleh Lina Nurmalina, terinspirasi dari kisah nyata, setelah sebelumnya dikembangkan oleh Archie Hekagery. Lina mengaku terhubung secara emosional dengan karakter Maria karena pernah mengalami kehilangan serupa.
“Saya ingin kisah ini menjadi ruang bagi perempuan yang berjuang di antara cinta dan keyakinan,” ucapnya.
Sementara itu, musisi Billy Simpson memperdalam emosi film lewat empat lagu orisinal, termasuk “Istanaku” yang mengiringi salah satu adegan paling intim.
“Waktu adegan doa dua keyakinan itu muncul, lagu ini langsung nyatu. Kita jadi lupa mana yang benar, karena yang tersisa cuma rasa,” kata Billy.
Antara Iman dan Luka yang Tak Pernah Sembuh
Lewat film ini, Michelle Ziudith membuka sisi pribadi yang jarang ia tunjukkan. Ia paham bahwa topik cinta beda agama bukan hal yang nyaman dibicarakan — namun justru di situlah letak kejujurannya diuji.
“Aku nggak mau pura-pura. Aku pernah ngerasain, dan itu nggak gampang. Tapi aku juga percaya, cinta nggak harus satu agama buat bisa tulus,” ungkapnya.
Film Jangan Panggil Mama Kafir akan tayang serentak di bioskop mulai 16 Oktober 2025, sekaligus menandai 21 tahun perjalanan Maxima Pictures di industri perfilman Indonesia.
Namun lebih dari sekadar perayaan, film ini menjadi ruang refleksi tentang cinta yang melintasi batas iman, dan luka yang mungkin tak pernah sembuh, tapi tetap pantas diperjuangkan.** (foto: Istimewa).






