SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Hari ini, sebuah program baru yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan resmi dimulai di Jakarta. Program ini dinilai penting sebagai langkah awal membangun inspirasi di tengah masyarakat, terutama dalam isu-isu yang berkaitan dengan karya kreatif dan nasionalisme.
Pay Burman, musisi senior sekaligus produser, turut menyoroti persoalan hak cipta lagu yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di industri musik Tanah Air. “Sistemnya sebenarnya sudah ada. Tapi belum semua merasakan manfaatnya. Ada yang dapat haknya dengan baik, ada juga yang masih terabaikan,” ujar Pay Burman saat ditemui usai acara peluncuran program tersebut, Rabu (11/6).
Ia menambahkan bahwa penting bagi para pelaku industri untuk menyampaikan isu-isu ini dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti oleh publik, misalnya melalui platform digital seperti YouTube. “Supaya orang lebih paham, kita perlu bicara soal ini pakai bahasa yang membumi. Jangan sampai masyarakat dan pelaku kreatif sama-sama bingung,” tuturnya.
Dalam diskusi tersebut, muncul keprihatinan bahwa masih banyak pencipta lagu yang belum mendapatkan hak ekonominya secara layak. Sementara di sisi lain, ada juga yang sudah merasakan manfaat dari sistem yang berjalan. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi perlindungan hak cipta masih belum merata.
“Ada seniman yang sudah diurus dengan baik haknya, tapi ada juga yang masih bingung, bahkan belum paham tentang hak waris dari karya mereka sendiri,” kata Pay Burman. “Kita tetap harus optimis, karena ini proses. Tapi ke depan, sistemnya harus lebih jelas dan adil.”
Ia juga menyinggung kasus terbaru antara musisi A dan penyanyi Lesti yang ramai dibicarakan publik. Menurutnya, kasus ini bisa menjadi momen penting untuk mendorong transparansi dan memperbaiki sistem perlindungan hak cipta.
“Yang penting kita jalanin dulu prosesnya. Jangan saling menyalahkan. Mudah-mudahan ke depan, semua seniman—terutama para pencipta—bisa lebih terlindungi,” pungkasnya. (rul)






