SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Ketua Dewan Juri Festival Film Horor (FFH) edisi ke-6, Ismail menilai film Para Perasuk berhasil menghadirkan horor yang dekat dengan identitas budaya Indonesia. Karena itu, film tersebut ditetapkan sebagai film terpilih FFH periode April 2026.
Menurut Ismail, penilaian dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan kekuatan cerita, aspek teknis, hingga keberanian film dalam mengangkat karakter lokal. Dari sejumlah film horor yang tayang sepanjang April, Para Perasuk dinilai paling kuat menghadirkan atmosfer horor yang khas Indonesia.
“Film ini bukan hanya menawarkan ketakutan, tetapi juga membawa penonton masuk ke ruang budaya yang terasa akrab. Unsur lokalnya hidup dan tidak dibuat-buat,” kata Ismail dalam konferensi pers FFH di Jakarta, Kamis, (14/5/2026).
Ia mengatakan banyak film horor Indonesia saat ini memiliki kualitas visual yang baik, namun tidak semuanya mampu membangun identitas yang kuat. Menurut dia, Para Perasuk berhasil memadukan elemen cerita, suasana, dan pendekatan budaya menjadi pengalaman menonton yang utuh.
“Horor Indonesia punya kekayaan budaya yang sangat besar. Ketika unsur itu diolah dengan serius, hasilnya terasa lebih kuat dan membekas bagi penonton,” ujarnya.
Selain menetapkan Para Perasuk sebagai film terpilih, FFH juga menganugerahkan penghargaan pemeran wanita terbaik kepada Anggun C Sasmi atas penampilannya sebagai guru misterius dalam film tersebut. Dewan juri menilai Anggun berhasil keluar dari citra populernya sebagai diva musik dan tampil meyakinkan sebagai karakter yang penuh misteri.
“Penonton dibuat lupa bahwa itu Anggun sang diva. Dia tampil sangat natural dan karakternya terasa hidup,” kata Ismail.
Sementara penghargaan pemeran pria terbaik diberikan kepada Aming lewat perannya dalam Ghost in The Cell. Ismail menyebut karakter “Tokek” yang dimainkan Aming berhasil menghadirkan rasa takut sekaligus ketegangan psikologis.
“Aming memberikan kejutan besar. Selama ini publik mengenalnya lewat komedi, tetapi di film ini dia mampu menghadirkan sosok yang dingin dan mengintimidasi,” ujarnya.
FFH edisi ke-6 juga menetapkan Joko Anwar sebagai sutradara terpilih dan Indra Suryadi sebagai Director of Photography (DoP) terbaik melalui film The Bell: Panggilan untuk Mati.
Selain penghargaan utama, FFH turut memberi perhatian pada film Allegory of a Woman yang mengangkat isu kekerasan digital dan revenge porn terhadap perempuan. Film tersebut mengisahkan perjuangan seorang perempuan bernama Sania yang berusaha mencari keadilan setelah menjadi korban penyebaran konten pribadi oleh mantan kekasihnya. **
Ismail berharap FFH dapat terus menjadi ruang apresiasi bagi sineas horor Indonesia sekaligus mendorong lahirnya karya-karya yang memiliki identitas lokal kuat.
“Horor Indonesia tidak boleh kehilangan akar budayanya. Justru di situlah kekuatan terbesar kita dibanding film-film dari negara lain,” pungkas Ismal. foto: istimewa ***






