Gerakan Hasadaon Nisintua Soroti Dugaan Pembungkaman Kritik Jemaat HKBP

PEMATANG SIANTAR – Gerakan Hasadaon Nisintua menyuarakan kritik terhadap pimpinan pusat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), khususnya Sekretaris Jenderal Rikson Hutahean, terkait dugaan pembungkaman kebebasan berpendapat jemaat di media sosial.

Dalam pernyataan sikap yang berkembang di kalangan jemaat, Gerakan Hasadaon Nisintua menilai adanya upaya pembatasan terhadap konten media sosial yang memuat kritik internal gereja. Konten tersebut umumnya menggunakan kata kunci seperti “HKBP Dalam Berita” dan “Hita Do HKBP”.

Menurut mereka, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan hak dasar jemaat, terlebih dalam kehidupan bergereja yang semestinya menjunjung tinggi nilai keterbukaan, keadilan, dan kebenaran.

“Sekretaris Jenderal HKBP Rikson Hutahean diminta menghentikan segala bentuk pembungkaman kebebasan jemaat untuk berpendapat,” demikian salah satu poin dalam diskusi internal yang dilakukan gerakan tersebut.

Sejumlah aktivis gereja menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana pimpinan pusat HKBP diduga melakukan pembatasan terhadap ekspresi jemaat di ruang digital. Mereka mempertanyakan arah kepemimpinan gereja saat ini.

Menurut mereka, kritik dari jemaat seharusnya dipandang sebagai bentuk koreksi internal yang konstruktif, bukan ancaman. Gereja, kata mereka, tidak seharusnya dikelola secara tertutup atau otoriter.

Gerakan Hasadaon Nisintua juga menekankan pentingnya ruang dialog terbuka di dalam tubuh gereja. Perbedaan pandangan dinilai perlu diselesaikan melalui mekanisme gerejawi yang sehat dan transparan.

Selain itu, mereka mengingatkan agar pimpinan gereja tidak menggunakan pendekatan intimidatif terhadap jemaat maupun pendeta yang menyampaikan kritik.

“Jika jemaat tidak lagi memiliki ruang untuk bersuara, hal itu bisa menjadi indikasi krisis demokrasi internal dalam gereja,” ujar salah satu pemerhati HKBP.

Gerakan tersebut turut menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan gereja, termasuk terkait keuangan, sistem kepemimpinan, dan kebijakan strategis lainnya. Mereka menilai, keterbukaan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan jemaat.

Hasadaon Nisintua juga mengingatkan bahwa pembatasan terhadap kebebasan berpendapat berpotensi memicu perpecahan internal. Jemaat, kata mereka, harus tetap memiliki ruang aman untuk menyampaikan aspirasi tanpa tekanan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak pimpinan pusat HKBP terkait tudingan tersebut.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *