SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA — Sutradara Hanung Bramantyo memilih genre horor untuk film terbarunya, Lobang Buaya. Namun, ketakutan dalam film ini tidak semata-mata dibangun melalui kehadiran makhluk gaib. Hanung menjadikan sejarah, stigma, kekuasaan, dan ketidakadilan sebagai sumber teror.
Hanung mengatakan pendekatan tersebut menjadi pembeda Lobang Buaya dari film horor pada umumnya. Menurut dia, sebuah peristiwa dapat terasa mengerikan tanpa harus menghadirkan sosok setan.
“Yang membedakan film horor ini adalah horor yang memang bicara tentang dua situasi yang kalian tidak perlu harus membuat setan. Tidak perlu, tapi tetap takut,” kata Hanung dalam konferensi pers perilisan official trailer dan final poster Lobang Buaya di Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2026.
Gagasan tersebut, kata Hanung, berangkat dari ketakutan yang muncul akibat sejarah yang belum selesai dibicarakan. Ia menyinggung sejumlah korban dalam peristiwa 1965 dan 1998 yang hingga kini masih tidak diketahui keberadaannya.
“Korban-korban dari 1965 dan korban-korban dari 1998, sampai hari ini tidak tahu di mana suaminya, di mana ibunya, di mana anaknya. Tiba-tiba hilang saja,” ujarnya.
Hanung juga melihat tuduhan dan stigma sebagai bentuk teror. Rasa takut, menurut dia, tidak selalu membutuhkan kehadiran makhluk supranatural.
“Tuduhan-tuduhan segala macam itu kan peristiwa horor. Nah, horor itu yang sebenarnya sedang saya ambilkan di sini,” kata Hanung.
Berlatar Indonesia 1964
Lobang Buaya berlatar Indonesia pada 1964, setahun sebelum peristiwa politik 1965. Ceritanya mengikuti misteri pembunuhan berantai di Desa Lobang Buaya yang terjadi setiap tanggal 30.
Letnan Soegeng, yang diperankan Baskara Mahendra, ditugaskan untuk menyelidiki rangkaian pembunuhan tersebut. Para korban ditemukan dengan kondisi mengenaskan, termasuk punggung yang berlubang dan tulisan bernada sindiran pada tubuh mereka.
Kabar mengenai kemunculan sosok yang disebut “Hantu Bolong” kemudian berkembang di tengah masyarakat. Soegeng berusaha mengungkap apakah pembunuhan tersebut berkaitan dengan hal supranatural atau justru dilakukan manusia.
Baskara mengatakan karakter Soegeng menjadi perspektif utama bagi penonton dalam mengikuti penyelidikan tersebut.
“Lewat film ini, kalian akan mengikuti setiap langkah Soegeng untuk mencari dalang di balik misteri pembunuhan berantai ini,” ujar Baskara.
Menurut dia, Soegeng tidak serta-merta menganggap peristiwa tersebut sebagai kejadian gaib.
“Kalau dari sisi Soegeng, kejadian ini bukan horor. Kejadian yang terjadi mungkin dilakukan sama orang, dan ini dilakukan sama orang yang kemampuannya di atas rata-rata manusia pada umumnya,” katanya.
Mengandalkan Plot Twist
Baskara mengaku tetap merasa tegang ketika menonton hasil akhir film tersebut, meski telah mengetahui alur cerita karena terlibat dalam proses produksi.
“Saya kalau duduk benar-benar di ujung karena tertarik, ingin tahu. Walaupun kita sudah syuting dan tahu apa yang terjadi, tetap ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi,” ujarnya.
Hanung mengatakan film tersebut sengaja menggunakan sejumlah plot twist untuk menjaga misteri. Penonton akan diarahkan pada satu kesimpulan sebelum cerita kembali mengubah arah melalui petunjuk lain.
“Di tengah-tengah teman-teman akan tahu, ini loh pelakunya. Tapi kemudian ternyata bukan,” kata Hanung.
Ia menyebut film Korea menjadi salah satu referensi dalam membangun pola cerita tersebut.
Carissa Perusset sebagai Arum
Film ini juga dibintangi Carissa Perusset yang memerankan Arum Wangi, istri baru Soegeng.
Arum kemudian mengalami sejumlah kejadian yang berkaitan dengan unsur mistis. Ia dihantui arwah perempuan yang menuntut bagian tubuhnya dikembalikan. Sebutan “Ronggeng” yang ditujukan kepada Arum menjadi bagian dari misteri cerita.
Carissa tidak banyak membocorkan perkembangan karakter yang diperankannya.
“Tonton saja nanti filmnya,” kata Carissa.
Konsep Tujuh Setan Desa
Selain pembunuhan dan unsur mistis, Hanung memasukkan konsep “tujuh setan desa” ke dalam film tersebut. Konsep itu digunakan untuk menggambarkan persoalan sosial dan relasi kekuasaan di tingkat desa.
Hanung menyebut kelompok seperti tuan tanah, tengkulak, rentenir, hingga birokrat yang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan ekonomi.
Ia kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan persoalan kontemporer, termasuk pinjaman online.
“Sekarang pinjol. Pinjol adalah tujuh setan desa,” ujar Hanung.
Hanung menegaskan Lobang Buaya merupakan karya fiksi. Namun, persoalan sosial yang menjadi bagian dari cerita, menurut dia, memiliki rujukan pada fenomena yang nyata.
“Jadi Lobang Buaya itu fiktif. Tapi tujuh setan desa yang menjadi tujuan untuk dilawan itu nyata,” katanya.
Tayang 1 Oktober 2026
Head of Operation Adhya Pictures, Debora Siahaan, mengatakan kolaborasi dengan Dapur Film untuk mengembangkan Lobang Buaya telah dimulai sejak 2024.
Menurut Debora, tim produksi melihat cerita tersebut memiliki pendekatan yang berbeda dan berani untuk dikembangkan.
Film itu juga telah diperkenalkan dalam sejumlah festival film internasional pada 2026, termasuk International Film Festival Rotterdam dan Bucheon International Fantastic Film Festival.
Debora mengatakan respons penonton internasional terhadap film tersebut cukup positif. Menurut dia, perhatian penonton tidak hanya tertuju pada unsur horor, tetapi juga latar sejarah Indonesia yang diangkat dalam cerita.
“Selain daripada horor Indonesia, mereka juga melihat cerita sejarahnya menarik, cerita tentang bangsa kita di sana,” ujar Debora.
Lobang Buaya dibintangi Baskara Mahendra sebagai Soegeng, Carissa Perusset sebagai Arum, Anya Zen sebagai Ningsih, Iskak Khivano sebagai Suradi, dan Mathias Muchus sebagai Sukarya.
Film garapan Hanung Bramantyo ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia pada 1 Oktober 2026.***






