JAKARTA – Sampah elektronik atau e-waste kini menjadi persoalan yang ikut membesar seiring pesatnya penggunaan perangkat teknologi. Kondisi ini mendorong PT Daur Ulang Sampah Elektronik (EwasteRJ) bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan DKI Jakarta meluncurkan E-Waste School Movement.
Gerakan tersebut resmi dimulai dari SMAN 68 Jakarta, Selasa (22/9/2026). Sekitar 300 siswa ikut dalam peluncuran program yang ditujukan untuk mengenalkan cara mengelola sampah elektronik sekaligus menyediakan akses pembuangan yang lebih aman.
Melalui program ini, siswa tidak hanya diberikan edukasi mengenai sampah elektronik. EwasteRJ juga menyediakan dropbox khusus untuk menampung perangkat elektronik yang sudah rusak atau tidak digunakan lagi.
Selain itu, disiapkan pula layanan pickup atau penjemputan sampah elektronik dari institusi pendidikan. Dengan begitu, perangkat elektronik bekas tidak dibuang bersama sampah rumah tangga biasa.
Data Global E-waste Monitor 2024 yang diterbitkan International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) mencatat dunia menghasilkan sekitar 62 juta ton sampah elektronik pada 2022.
Ironisnya, dari jumlah tersebut hanya sekitar 22,3 persen yang tercatat dikumpulkan dan didaur ulang secara formal sesuai standar pengelolaan lingkungan. Jika tidak ada perbaikan sistem pengumpulan dan pengelolaan, volume e-waste global diproyeksikan mencapai 82 juta ton pada 2030.
Persoalan tersebut juga menjadi tantangan bagi Indonesia. Berdasarkan data Kemendikdasmen melalui Neraca Pendidikan Daerah, Indonesia memiliki lebih dari 434 ribu satuan pendidikan dengan jumlah peserta didik mencapai lebih dari 53 juta orang.
Kepala Bidang Peran Serta Masyarakat, Data dan Informasi DLH DKI Jakarta Elisabeth Tarigan mengatakan, program tersebut sejalan dengan penguatan budaya peduli lingkungan melalui Sekolah Adiwiyata.
“Kehadiran E-Waste School Movement di lingkungan sekolah tidak hanya meningkatkan kesadaran siswa terhadap pengelolaan sampah, tetapi juga memberikan solusi infrastruktur pengumpulan yang nyata dan terstruktur bagi generasi muda di Jakarta,” kata Elisabeth.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Pusat Bakwan Ferizan Ginting menyambut baik gerakan tersebut. Menurutnya, sekolah memiliki posisi penting dalam membentuk kebiasaan peduli lingkungan sejak usia dini.
“Dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis sejak dini,” ujar Bakwan.
Pendiri EwasteRJ Rafa Jafar mengatakan, pihaknya ingin agar pengelolaan e-waste tidak berhenti pada kegiatan edukasi. Menurutnya, masyarakat juga membutuhkan fasilitas yang mudah dijangkau untuk membuang perangkat elektronik secara tepat.
“Peran EwasteRJ bukan hanya mengumpulkan dan mendaur ulang sampah elektronik. Kami ingin membangun infrastruktur sosial agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami e-waste dan terbiasa membuang sampah elektronik melalui jalur yang benar,” kata Rafa.
Setelah diluncurkan di SMAN 68 Jakarta, EwasteRJ akan mengevaluasi penggunaan dropbox, jenis dan volume sampah elektronik yang terkumpul, proses pemilahan hingga kebutuhan penjemputan.
Jakarta dipilih sebagai titik awal karena memiliki jaringan 481 Sekolah Adiwiyata berdasarkan data portal SIDIA DLH DKI Jakarta. Hasil evaluasi program nantinya akan menjadi bahan untuk memperluas gerakan tersebut ke sekolah dan institusi pendidikan di daerah lain.
Rafa berharap sekolah nantinya tidak hanya menjadi tempat siswa belajar mengenai bahaya dan pengelolaan e-waste. Lebih dari itu, sekolah diharapkan menjadi tempat pertama bagi siswa untuk membangun kebiasaan membuang dan mendaur ulang sampah elektronik dengan benar.
“Indonesia memiliki lebih dari 434 ribu satuan pendidikan dan lebih dari 53 juta peserta didik. Mimpi besar kami adalah membawa edukasi sekaligus akses pengumpulan e-waste ke institusi-institusi pendidikan di seluruh Indonesia,” tuturnya.**






