SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Teater Koma kembali menghidupkan salah satu karya penting mendiang N. Riantiarno, Rumah Sakit Jiwa, melalui pementasan versi 2026 yang diproduksi bersama Bakti Budaya Djarum Foundation. Setelah 35 tahun sejak pertama kali dipentaskan, lakon ini hadir dengan pendekatan artistik baru tanpa meninggalkan ruh kritik sosial yang menjadi kekuatan utamanya. Di balik kisah tentang sebuah rumah sakit jiwa, pertunjukan ini menyuguhkan refleksi mengenai kekuasaan, kemanusiaan, dan empati yang dinilai tetap relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Pementasan yang menjadi produksi ke-237 Teater Koma itu digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026. Melalui eksplorasi tata panggung, tata cahaya, multimedia, musik, dan rancangan kostum yang lebih segar, pertunjukan ini menawarkan pengalaman baru bagi penonton sekaligus membuka ruang pembacaan ulang terhadap karya klasik tersebut.
Program Manager Bakti Budaya Djarum Foundation, Billy Gamaliel, mengatakan kolaborasi dengan Teater Koma merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan seni pertunjukan Indonesia sekaligus mendorong lahirnya regenerasi pelaku seni.
Menurut Billy, selama hampir lima dekade Teater Koma berhasil membuktikan bahwa teater tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Kami percaya seni memiliki kekuatan untuk menyentuh, menginspirasi, dan menjembatani generasi dalam mengenal serta merayakan kekayaan budaya bangsa,” ujar Billy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, (29/7/2026).
Lakon Rumah Sakit Jiwa mengisahkan Rogusta, seorang dokter muda yang meyakini pendekatan empati dapat membantu proses penyembuhan pasien. Namun gagasan tersebut berbenturan dengan sistem yang telah lama mengakar serta pihak-pihak yang merasa kekuasaan dan posisinya terancam.
Konflik itu berkembang menjadi kritik terhadap relasi kuasa, ketakutan, prasangka, dan cara manusia memperlakukan sesamanya. Rumah sakit dalam lakon ini menjadi metafora sebuah masyarakat yang perlahan kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Produser Teater Koma, Ratna Riantiarno, mengatakan pementasan kali ini bukan sekadar mengulang produksi tahun 1991. Menurut dia, naskah yang sama justru menjadi ruang untuk melahirkan tafsir artistik baru sesuai perkembangan zaman.
“Dunia yang berbeda menghadirkan tantangan sekaligus peluang untuk menafsirkan kembali naskah ini dengan kreativitas baru tanpa terbebani pementasan sebelumnya,” kata Ratna.
Pendekatan baru itu terlihat dari rancangan panggung bertingkat yang menggambarkan jarak sosial dan hierarki kekuasaan antartokoh. Tata cahaya dan multimedia digunakan untuk memperkuat perubahan emosi dalam setiap adegan, sementara komposisi musik karya Fero A. Stefanus membangun atmosfer yang bergerak mengikuti dinamika cerita.
Sutradara Rangga Riantiarno menjelaskan proses kreatif produksi dilakukan melalui observasi ke rumah sakit jiwa serta diskusi dengan psikolog klinis dan psikiater agar para pemain mampu membangun karakter berdasarkan empati, bukan sekadar imajinasi.
Ia juga menyoroti regenerasi yang terjadi dalam produksi kali ini. Dari 115 orang yang terlibat, hanya enam pemain yang pernah tampil dalam pementasan Rumah Sakit Jiwa pada 1991. Selebihnya merupakan generasi baru Teater Koma yang membawa perspektif berbeda dalam menghidupkan setiap karakter.
“Harapannya, penonton tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga pulang membawa refleksi untuk terus memperlakukan manusia lain sebagai manusia,” ujar Rangga.
Selain akting para pemain, identitas visual tokoh-tokoh dalam pertunjukan diperkuat melalui rancangan kostum karya Samuel Wattimena bersama Rima Ananda. Kostum tidak hanya menggambarkan profesi setiap karakter, tetapi juga merefleksikan kondisi psikologis dan perjalanan emosional mereka sepanjang pertunjukan.
Melalui pementasan versi 2026 ini, Teater Koma kembali menegaskan bahwa karya klasik tidak pernah kehilangan daya gugatnya. Kritik terhadap penyalahgunaan kekuasaan, lunturnya empati, dan pentingnya memanusiakan sesama tetap menjadi pesan utama yang terasa relevan di tengah berbagai dinamika sosial saat ini.**






