SINARPAGINEWS.COM, JAKARTA – Pedangdut dan aktris FTV Suara Hati Istri, Camelia Putri, mempertanyakan ke mana aliran dana para jamaah Travel Hanania yang hingga kini belum diketahui keberadaannya. Sebagai salah satu korban gagal berangkat umrah, ia berharap aparat penegak hukum dapat mengusut tuntas dugaan penipuan dan penggelapan dana yang merugikan ratusan jamaah tersebut.
Camelia mengaku telah bergabung dengan para korban sejak awal kasus mencuat dan ikut melaporkan persoalan tersebut ke Polda Metro Jaya. Menurut dia, fokus utama para korban saat ini bukan hanya soal pengembalian dana, melainkan memperoleh jawaban yang jelas mengenai penggunaan uang jamaah yang nilainya disebut mencapai ratusan miliar rupiah.
“Pertanyaan terbesar kami sekarang adalah ke mana uang itu mengalir. Korban-korban hanya ingin ada kejelasan dan transparansi. Jangan sampai kasus ini berhenti di tengah jalan tanpa jawaban,” kata Camelia kepada wartawan di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Perempuan yang dikenal melalui sejumlah FTV itu mengungkapkan dirinya mengalami kerugian sebesar Rp22,5 juta setelah gagal berangkat umrah melalui Travel Hanania. Dana tersebut telah dibayarkan lunas untuk keberangkatan yang dijadwalkan setelah Agustus.
Meski nominal kerugiannya tidak sebesar sebagian korban lain yang kehilangan ratusan juta hingga miliaran rupiah, Camelia menilai seluruh korban memiliki hak yang sama untuk memperoleh kepastian hukum.
“Bagi saya, ini bukan soal besar atau kecil nominal kerugian. Itu uang yang kami kumpulkan untuk ibadah. Yang membuat kecewa adalah tidak adanya kepastian sampai sekarang,” ujarnya.
Ironisnya, Camelia mengaku sebelumnya memiliki pengalaman positif menggunakan jasa Travel Hanania. Ia bahkan pernah menunaikan ibadah umrah melalui biro perjalanan tersebut dan merasa puas dengan pelayanan yang diberikan.
Karena pengalaman itu, ia kembali mempercayakan keberangkatan umrahnya kepada Travel Hanania. Namun seiring berjalannya waktu, jadwal keberangkatan terus tertunda hingga akhirnya muncul berbagai laporan mengenai dugaan masalah keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Camelia, kasus ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan aparat penegak hukum mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah jamaah umrah terbesar di dunia. Ia khawatir jika perkara tersebut tidak diselesaikan secara tuntas, praktik serupa akan kembali terjadi dan memakan korban baru.
“Jangan sampai ada lagi pihak yang menjual janji ibadah kepada masyarakat lalu dana jamaah tidak jelas ke mana perginya. Kalau kasus seperti ini tidak dituntaskan, bukan tidak mungkin akan muncul kejadian serupa di masa depan,” katanya.
Camelia juga berharap penyidik tidak hanya berfokus pada proses pidana terhadap para terlapor, tetapi turut menelusuri aset-aset yang diduga berkaitan dengan dana jamaah. Menurut dia, langkah tersebut penting untuk memberikan peluang pengembalian hak para korban.
Meski mengaku berusaha ikhlas atas musibah yang dialaminya, Camelia menegaskan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut bersama para jamaah lainnya. Ia berharap penyidikan dapat mengungkap secara terang benderang aliran dana yang selama ini menjadi tanda tanya besar bagi para korban.
“Sekarang yang ingin diketahui semua korban sama, uang itu ke mana. Kami berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan keadilan bagi seluruh jamaah yang dirugikan,” ujarnya.
Hingga kini, Polda Metro Jaya masih mendalami laporan para korban terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana Travel Hanania. Para jamaah berharap proses hukum dapat berjalan tuntas sehingga tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga mengungkap keberadaan dana yang telah mereka setorkan untuk perjalanan ibadah umrah.**






